ketika harapan menjadi luka

eneng aisah
Chapter #7

Bab. 7

Waktu berlalu bagai air yang mengalir. Kini aku telah menginjak usia remaja yang mulai dewasa. Luka-luka di hatiku telah menjadi bekas yang mengeras, membentukku menjadi sosok yang tangguh namun dingin. Setelah lulus SMP, peluang yang kunanti akhirnya datang. Seorang kenalan menawariku pekerjaan di kota besar, sebuah kesempatan emas untuk mengubah nasib hidupku.

Tanpa pikir panjang, aku menerima tawaran itu. Kepergianku tidak diiringi air mata perpisahan, melainkan rasa lega yang luar biasa. Aku meninggalkan rumah Om dan Tante, tempat yang selama ini hanya memberiku atap untuk berteduh, namun tak pernah memberiku kasih sayang. Aku pergi tanpa membawa banyak barang, hanya sebuah tas ransel tua berisi pakaian seadanya.

Aku berangkat ke kota tanpa membawa telepon genggam. Hidupku kini dimulai dari nol. Aku bekerja keras di sebuah rumah makan; mencuci piring, melayani pembeli, bekerja dari pagi buta hingga malam tiba. Tubuhku memang terasa sangat lelah, tapi jiwaku merasa bebas. Tidak ada lagi bentakan, tidak ada lagi tatapan sinis yang menghakimi setiap gerak-gerikku.

Sesekali, jika rindu pada adikku satu-satunya mulai menyeruak, aku meminjam telepon genggam milik Bosku—karena saat itu aku belum mampu membelinya—hanya untuk sekadar mendengar suaranya. Namun, selama tiga bulan pertama, aku tak pernah sekalipun menelepon rumah Om dan Tante. Bukan hanya karena belum berani meminta izin meminjam HP, tapi juga karena aku ingin menikmati kedamaian ini, jauh dari permintaan dan tuntutan yang tak pernah berkesudahan.

Namun, masalah seakan tak pernah lelah mengejar langkahku.

Lihat selengkapnya