ketika harapan menjadi luka

eneng aisah
Chapter #9

Bab.9

Keesokan harinya, aku masuk ke kamar adikku, Dika. Mataku seketika terbelalak melihat kondisi perlengkapan sekolahnya. Baju seragamnya sudah pudar dan sobek di beberapa bagian, sepatunya sudah tipis hingga solnya hampir lepas, tasnya butut dan jelas-jelas barang bekas, serta buku tulis yang kertasnya sudah lusuh dan robek, ditambah pensil yang tinggal pendek sekali.

Aku mengernyitkan dahi, dadaku terasa sesak. Apa mereka kembali menghancurkan harapan dan kepercayaanku? Bukankah selama ini aku selalu mengirim uang setiap bulan tanpa putus? Jumlahnya cukup untuk membelikan seragam baru, tas yang bagus, dan sepatu yang layak. Kenapa semuanya terlihat seperti ini? Kenapa masih terlihat serba kekurangan?

Hati kecilku mulai menebak hal yang paling buruk. Apakah uang itu mereka pakai untuk keperluan sendiri dan tidak membelikan apa pun untuk Dika? Padahal semuanya sudah kuatur, seharusnya cukup untuk makan dan kebutuhan sekolah adikku. Tapi kenapa?

Aku mendekati adikku, memegang bahu kecil itu dengan lembut.

“De, kenapa baju dan sepatumu rusak semua? Tas, pensil, dan bukumu juga terlihat tidak layak,” tanyaku pelan. Suaraku bergetar menahan amarah, kecewa, dan kesal yang bercampur menjadi satu. “Uang yang Kakak kirim ke Tante setiap bulan kan memang khusus buat kamu sekolah, buat beli seragam dan jajan. Kenapa Tante tidak belikan yang baru?”

Lihat selengkapnya