Langkahku terasa berat namun tegas saat berjalan menuju ruang tengah. Di sana, Bibiku sedang duduk santai seolah tidak terjadi apa-apa. Melihat wajah itu, dadaku terasa sesak, napasku tertahan oleh ribuan pertanyaan yang ingin kulontarkan.
“Bibi...” panggilku. Suaraku terdengar parau.
Bibiku menoleh, sedikit terkejut melihat raut wajahku yang berubah. “Ada apa, Sa? Kenapa mukanya begitu?”
“Kenapa Dika masih pakai baju bekas? Kenapa sepatunya juga bekas?” Aku menahan getar suaraku, mataku menatap tajam. “Uang yang Raisa kirim setiap bulan jumlahnya tidak sedikit, Bi. Cukup buat beli seragam baru, tas baru, sepatu baru. Kenapa Dika pakai barang bekas semua? Kenapa dia bahkan tidak pernah dikasih uang jajan?”
Kemana uang yang Raisa kirim?