Sentuhan hangat itu seketika memecahkan kebekuan di hatiku. Aku memeluk tubuh mungil itu kembali, mengeratkan pegangan seolah takut adikku akan hilang dibawa oleh waktu. Di pelukan Dika, aku menemukan sedikit kekuatan untuk bertahan. Aku berjanji pada diri sendiri, semua ini tidak akan berlangsung selamanya.
Keesokan paginya, waktunya aku harus kembali ke kota. Sinar matahari pagi itu tidak terasa hangat sama sekali bagi hatiku yang beku. Sebelum berangkat, aku berlutut menyamakan tinggi badan dengannya. Aku memegang kedua pipi adikku itu dengan tangan yang gemetar namun penuh kasih sayang.
“Dika, dengar Kakak baik-baik ya,” bisikku, menatap manik mata itu dalam-dalam. “Tahun depan... pas kenaikan kelas, Kakak janji. Kakak sendiri yang akan membelikan baju seragam baru untuk Dika. Kakak yang akan membelikan sepatu bagus, tas baru, dan semua buku tulis yang tebal-tebal. Nanti Dika tidak perlu meminta kepada siapa-siapa lagi.”
Dika mengangguk paham, matanya berbinar sedikit mendengar janji itu.
“Untuk uang makan Dika sehari-hari, Kakak tetap akan mengirimkannya ke Tante,” lanjutku, suaraku berusaha terdengar tegas. “Tapi sabar ya, Sayang. Tunggu waktunya sebentar lagi. Nanti kalau Dika sudah tidak sekolah lagi... atau saat waktunya sudah tepat, Kakak akan membawa Dika pergi ke kota. Kita tinggal bersama Kakak, jauh dari sini. Kita hidup berdua saja, ya?”
Dika mengangguk cepat, kembali memeluk leherku erat. “Iya, Kak. Dika tunggu.”
Aku pun pergi dengan hati yang berat, namun tekad di dada kini membara. Luka ini memang perih, tapi aku akan menjadikan rasa sakit itu sebagai bahan bakar untuk bekerja lebih keras. Demi Dika, demi masa depan kami berdua, aku akan bertahan sampai hari di mana aku bisa menariknya keluar dari tempat yang menyakiti ini.
Perjalanan pulang ke kota terasa begitu panjang dan sunyi. Hatiku masih dipenuhi tumpukan emosi yang belum reda, namun aku harus kembali terjun ke realita kehidupan yang keras. Sesampainya di tempat kerja, aku segera meminjam ponsel milik Bos untuk menghubungi rumah.
Tanteku yang mengangkat telepon. Aku berbicara dengan nada datar, sekadar memberitahu bahwa aku sudah sampai dengan selamat. Setelah itu, aku meminta untuk berbicara dengan Dika.
“Dika, dengar Kakak,” suaraku melembut mendengar suara rengek kecil di seberang sana. “Dika harus rajin sekolah ya. Makan yang banyak, jangan nakal. Ingat ya, tinggal empat tahun lagi... nanti kita kumpul bersama lagi.”
“Iya, Kak. Dika janji. Sekarang Dika sudah kelas dua SD, kan!” jawab Dika dengan nada bangga.
Aku tersenyum tipis, lalu segera mengakhiri panggilan itu. Aku tak ingin percakapan kami terganggu oleh suara orang lain yang hanya tahu meminta.