ketika harapan menjadi luka

eneng aisah
Chapter #12

Bab.12

Dua tahun berlalu bagai angin yang berlalu begitu saja, namun bagiku, setiap hari terasa seperti perjuangan yang tak ada habisnya. Aku memilih untuk tidak pulang ke kampung halaman, bukan karena tak lagi menyayangi Dika, melainkan karena aku sadar, jarak adalah satu-satunya cara untuk menjaga kewarasanku dan memastikan kebutuhan adikku tetap terpenuhi.

Aku tahu betul posisiku. Jika aku pulang, aku tahu apa yang menantinya: tuntutan, caci maki, dan rasa tidak dihargai jika tidak membawa uang. Jadi, aku memilih bekerja lebih keras, menabung lebih banyak, dan memastikan Dika tidak kekurangan apa pun meski aku dan adikku harus berjauhan.

Setiap kali kenaikan kelas tiba, akulah yang membelikan seragam baru, sepatu, tas, hingga alat tulis yang lengkap. Bahkan saat Lebaran tiba, aku tak pernah lupa membelikan baju baru yang paling bagus untuk Dika. Aku tidak mengirim uang untuk dibelikan sendiri, melainkan membelinya langsung di kota ini, lalu menitipkannya pada supir travel yang aku percaya.

Untungnya, orang yang mengantar barang itu sangat baik dan bisa dipercaya. Semua paket yang kukirim selalu sampai utuh ke tangan Dika, tidak ada yang dikurangi atau diambil orang lain.

“Kak... seragamnya bagus banget! Sepatunya juga empuk. Dika senang banget!” Suara ceria Dika terdengar di telepon, membuat lelah di pundakku seakan hilang seketika.

“Suka dik? Alhamdulillah kalau suka. Pakai yang baik-baik ya, belajar yang rajin,” jawabku lembut.

Kini, aku sudah memiliki ponsel sendiri. Aku juga membelikan ponsel khusus untuk Bibi—meskipun sebenarnya Bibi sudah punya—agar aku bisa lebih mudah berkomunikasi dengan Dika. Setiap hari atau setiap ada waktu luang, aku akan menelepon. Mendengar cerita Dika bahwa ia sudah kelas 4 SD dan semakin pintar, itu adalah kebahagiaan terbesarku.

Namun, kehangatan itu hanya ada saat aku berbicara dengan Dika. Berbeda jauh ketika aku mengangkat telepon atau menerima pesan dari Ayah.

Hubunganku dengan Ayah sudah seperti orang asing. Tidak ada tanya kabar, tidak ada perhatian. Ayah hanya akan muncul, baik lewat telepon maupun pesan, hanya saat ada keperluan dan butuh uang.

Lihat selengkapnya