Minggu-minggu berlalu setelah percakapan pedas itu, dan aku kerap kali menumpahkan air mata dalam kesunyian malam. Hatiku telah berusaha membatu, mencoba untuk berhenti berharap, namun naluri sebagai seorang anak tak bisa dibohongi. Sekuat apa pun aku berdiri tegar, sedalam apa pun luka yang menganga, aku tetaplah seorang putri yang mendambakan kasih sayang dan pengakuan dari ayahku sendiri. Namun, harapan itu selalu pupus, berganti dengan tumpukan kekecewaan yang kian menumpuk.
Hingga suatu hari, panggilan dari tanteku datang memecah keheningan.
“Ra, pulanglah sebentar. Ada hal penting yang perlu dibicarakan,” suara tanteku terdengar mendesak, penuh tekanan.
“Memangnya ada apa, Tante?” tanyaku waspada.
“Tidak usah banyak bertanya, pulang saja dulu,” jawabnya singkat dan ketus.
Meski hatiku masih perih dan suasana hatiku belum sepenuhnya pulih, aku menghela napas panjang. Aku tahu, aku harus pulang. Dengan berat hati, aku membereskan barang-barangku setelah sebelumnya meminta izin kepada bosku, lalu berangkat kembali ke kampung halaman.