Setelah acara pertunangan usai, aku kembali ke kota untuk melanjutkan pekerjaan. Aku berusaha menenggelamkan diri dalam rutinitas, seolah-olah dengan bekerja keras, semua masalah dan kepahitan ini bisa hilang begitu saja. Aku ingin pikiranku kosong, hanya terisi oleh angka dan tugas, agar tak sempat meratapi nasib yang sedang menimpa.
Dua minggu berlalu, komunikasi antara aku dan Herry bisa dihitung jari. Kami hanya bertukar kabar sebanyak dua kali lewat telepon, dan itu pun singkat, kaku, serta penuh kecanggungan. Aku memang sengaja menyibukkan diri, bukan hanya untuk melupakan rasa sakit yang kurasakan, tapi juga agar bisa lebih fokus pada pekerjaan yang kini menjadi satu-satunya pelarianku.
Aku hanya sesekali menelepon adikku untuk menanyakan kabar, dan tak pernah lupa mengirimkan uang saku serta memenuhi keperluannya setiap bulan. Aku berusaha menjadi kakak yang baik, berusaha tampil kuat di hadapan orang lain, meski di dalam sana, hatiku hancur lebur tak berbentuk.
Namun, ketenanganku kembali terganggu saat pekerjaanku baru saja usai di suatu malam. Hujan turun rintik-rintik di luar jendela, seolah langit pun ikut merasakan kesedihanku. Tiba-tiba, ponselku berdering keras memecah keheningan. Nama Tanteku terpampang jelas di layar. Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Dengan tangan gemetar dan hati yang berat, aku mengangkatnya.
“Raisa, kenapa kamu begitu cuek dengan tunanganmu sendiri? Kamu ini calon istri yang bagaimana sih?” tegur Tanteku dari seberang sana. Nadanya terdengar tajam dan menyakitkan.
“Raisa sibuk bekerja, Bi. Di sini tidak bisa seenaknya memegang ponsel terus. Raisa baru bisa memegang HP kalau malam saja, itupun jika semua tugas sudah selesai,” jelasku pelan, berusaha bersikap sopan walau suaraku mulai bergetar menahan emosi.