ketika harapan menjadi luka

eneng aisah
Chapter #15

Bab. Terahir

Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk memutus segala komunikasi. Bukan karena aku tidak merindukan Dika, adikku satu-satunya. Namun, hatiku benar-benar sudah rapuh, hancur berkeping-keping dan tak sanggup lagi disatukan. Aku tak sanggup lagi mendengar suara mereka, mendengar bentakan, tuduhan, dan rasa selalu disalahkan yang seakan tak pernah berujung.

Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan pulang hanya saat Dika sudah lulus sekolah. Dan saat hari itu tiba, aku akan membawanya pergi bersamaku, menjauh dari semua racun yang perlahan mematikan jiwaku.

Selama masa itu, aku tetap mengirimkan uang, membelikan pakaian, dan memenuhi segala kebutuhan Dika tanpa pernah putus. Namun, komunikasi kami sangat terbatas. Aku hanya mengirim pesan singkat kepada Tante jika sudah melakukan transfer. Itu saja. Selebihnya, sunyi. Dan anehnya, hatiku justru terasa sangat lega, meski harus menahan rindu yang mengganjal di dada demi kedamaian jiwaku sendiri.

Hari yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Dika resmi lulus sekolah dasar.

Dengan hati yang mantap, aku pulang ke kampung halaman untuk menjemputnya. Sesampainya di depan rumah, sosok kecil yang kurindu sudah berdiri menunggu di sana.

"Kakaaa!!" serunya sambil berlari menghampiri. "Dika kangen banget sama Kakak! Dika sudah lulus sekarang, Ka! Lihat deh ijazahnya!"

Aku tersenyum lebar, air mata bahagia hampir menetes. "Iya, Alhamdulillah ya Dik. Adik Kakak memang hebat dan pintar," ucapku sambil memeluknya erat, menghirup aroma tubuhnya yang selama ini kurindukan.

"Yuk, masuk. Besok pagi kita langsung berangkat ke kota," ajakku lembut.

Begitu melangkah masuk ke ruang tamu, aku melihat Paman dan Tante duduk di sana. Wajah mereka masam, penuh ketidaksukaan seolah aku adalah orang asing yang tak diundang. Tapi aku tak peduli. Aku sudah berubah. Rasa takut itu telah hilang, digantikan oleh ketegaran yang kokoh. Aku tetap menyapa dengan sopan.

"Assalamualaikum, Bi," sapaku tenang.

"Walaikumsalam. Hhh, sudah jadi orang kota jadi sombong ya sekarang," sahut Tante dengan nada sinis dan ketus.

Aku hanya menghela napas panjang, membuang napas pelan. Aku lelah, sangat lelah untuk meladeni ocehan mereka. Bicarakan nanti saja, batinku.

Lihat selengkapnya