BAB 1
Hujan yang Jatuh ke Atas
Alika Wulandari butuh waktu kurang dari lima menit untuk memutuskan Paviliun Teduh harus dijual.
Keputusan itu sebenarnya sudah ada sebelum ia membuka pintu utama.
Cat dinding luarnya mengelupas. Salah satu huruf pada papan nama miring. Tanaman merambat menutupi sebagian jendela lantai dua, seolah-olah bangunan itu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.
Di halaman depan, genangan sisa hujan semalam dipenuhi daun kering.
Alika berdiri sambil membawa koper kecil, tas kerja, dan setumpuk dokumen dari kantor notaris. Kunci kuningan yang diberikan kepadanya terasa terlalu berat untuk sebuah penginapan yang hampir setahun tidak menerima tamu.
“Dijual,” gumamnya. “Atau diratakan.”
Kunci berputar dengan susah payah.
Pintu kayu terbuka dengan derit panjang.
Seperti mengeluh.
Udara lembap dan bau kayu tua langsung menyambutnya.
Lobi Paviliun Teduh tidak banyak berubah dari ingatannya. Meja resepsionis masih di tengah ruangan. Sofa hijau tua yang dulu dilarang didudukinya karena dianggap terlalu mahal sekarang tertutup debu. Jam dinding berbentuk rumah kecil masih menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh, padahal sore baru saja dimulai.
Di belakang meja, dua belas kunci kamar masih tergantung.
Alika meletakkan dokumen warisan.
“Nenek benar-benar meninggalkan semuanya,” katanya kepada ruangan kosong. “Termasuk biaya perbaikannya.”
Tidak ada jawaban.
Ia juga tidak sedang menunggu jawaban.
Tapi kesunyian bangunan itu terasa aneh.
Kota Tirakarta tidak pernah benar-benar diam. Dari luar biasanya terdengar klakson, pedagang berteriak, atau mesin kendaraan dari jalan utama. Di sini, begitu pintu tertutup, suara kota seperti berhenti di depan halaman.
Alika mengeluarkan ponsel.
Pesan terakhir dari Jodi muncul di layar.
Sudah sampai di rumah berhantu?
Ia membalas singkat.
Penginapan tua. Bukan rumah berhantu.
Tiga titik langsung muncul.
Itu kalimat pembuka semua cerita rumah berhantu.
Alika memasukkan ponsel sebelum Jodi mengirim sesuatu yang lebih tidak berguna.
Ia melepas jaket, mengikat rambut, lalu mulai memeriksa bangunan.
Kebiasaannya sebagai konservator benda bersejarah membuatnya susah melihat kerusakan lalu pura-pura tidak melihatnya.
Engsel berkarat.
Retakan kecil di dinding utara.
Kelembapan tinggi di bawah tangga.
Sebagian ukiran kayu masih baik, meski perlu dibersihkan.
Bangunan itu sebenarnya indah.
Itulah masalahnya.
Sesuatu yang indah membuat calon pembeli berpikir dua kali sebelum merobohkannya. Di sisi lain, biaya memulihkannya bisa bikin orang berubah pikiran.
Di ujung lobi ada lift tua dengan pintu besi berukir sulur awan.
Alika mencoba menekan tombol di sebelahnya.
Tidak terjadi apa-apa.
Ia memang sudah menduga.
Menurut laporan teknis dari notaris, lift itu tidak berfungsi selama puluhan tahun. Kabel utamanya sudah dilepas dan ruang mesinnya bahkan tidak tercatat dalam denah bangunan.
Alika mengetuk pintu besinya.
“Setidaknya kamu tidak ikut nambah tagihan listrik.”
Dari balik pintu terdengar bunyi pelan.
Tok.
Alika langsung menarik tangannya.
Ia menunggu beberapa detik.
Lalu mengetuk lagi.
Tok. Tok.
Tidak ada jawaban.
“Mungkin tikus.”
Ia menatap pintu itu.
Tikus biasanya tidak membalas ketukan dengan sopan.
Alika memasukkan pemeriksaan hama ke daftar pekerjaannya, lalu naik ke lantai dua.
Dua belas kamar berjajar sepanjang lorong. Sebagian masih tertutup kain putih.
Di kamar tujuh, jendelanya terbuka sedikit meskipun semua pengait terkunci. Tirai bergerak perlahan.
Alika berdiri sebentar.
Tidak ada angin yang terasa.
Ia menutup jendela rapat-rapat.
Menjelang petang, Alika kembali ke lobi dan mulai membuka laci-laci meja resepsionis. Isinya macam-macam. Kuitansi lama, pulpen kering, kartu nama tamu, brosur wisata Tirakarta yang sudah tidak berlaku.
Laci paling bawah terkunci.
Alika mencoba tiga kunci sebelum menemukan yang cocok.
Di dalamnya hanya ada sebuah kotak kayu kecil berukir bunga.
Ia mengenali kotak itu.
Waktu berumur delapan tahun, Alika pernah mencoba membukanya dengan pisau dapur karena yakin neneknya menyimpan perhiasan di dalam. Rukmini memergokinya, mengambil pisau itu, lalu menyuruhnya membersihkan dua belas jendela sebagai hukuman.
Alika membuka tutup kotak.
Tidak ada perhiasan.
Hanya selembar surat yang dilipat dan sebuah kunci kuningan tanpa nomor.
Tulisan tangan Rukmini memenuhi bagian depan surat.