BAB 2
Putra Mahkota Kamar Nomor Tujuh
Lelaki yang mengaku mengenal Alika pingsan sebelum sempat menjelaskan siapa yang mencuri hari, hari milik siapa, atau kenapa tuduhan itu ditujukan kepadanya.
Alika membiarkan tubuh lelaki itu terbaring beberapa detik.
Ia sedang berpikir, apakah memindahkan pria bersenjata yang keluar dari lift mati termasuk tindakan menolong atau keputusan buruk yang nanti harus ia jelaskan kepada polisi.
Darah terus merembes dari sisi tubuh lelaki itu. Anehnya, tetes yang keluar dari pakaiannya tidak menyentuh lantai. Darah itu malah melayang perlahan ke atas, lalu lenyap begitu mencapai langit-langit.
Alika menarik napas.
“Baik,” gumamnya. “Aku akan menyesali ini.”
Ia menyeret tubuh lelaki itu menjauh dari lift. Jauh lebih berat dari perkiraannya. Pria itu tinggi dan berat, sementara tangannya masih mencengkeram pedang patah seperti takut kehilangan satu-satunya benda yang masih menghubungkannya dengan tempat asalnya.
Alika mencoba melepaskan pedang itu.
Jari-jari lelaki itu langsung mengencang.
Matanya tetap tertutup, tapi bibirnya bergerak.
“Jangan.”
“Kalau begitu jangan salahkan saya kalau pedang itu menusuk kaki Anda sendiri.”
Tidak ada tanggapan.
Alika mengambil kotak pertolongan pertama dari dapur, lalu memindahkan beberapa bantal sofa ke lantai. Ia tidak mungkin membawa pria ini ke kamar sendirian. Di lobi setidaknya ia masih bisa mengawasi lift. Sekalian memastikan tamu tidak diundang itu tidak tiba-tiba bangun dan menyerangnya dari belakang.
Ia menggunting kain yang menutupi luka.
Sayatan panjang membentang dari bawah tulang rusuk menuju pinggang. Kelihatannya akibat benda tajam. Tidak cukup dalam untuk langsung membunuh, tetapi darah yang hilang sudah terlalu banyak.
Alika membersihkannya perlahan.
Lelaki itu tersentak. Tangannya bergerak cepat dan menangkap pergelangan Alika.
Matanya terbuka.
“Lepaskan,” kata Alika.
Pria itu menatapnya tanpa berkedip. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih, tapi kewaspadaan di wajahnya sudah kembali.
“Apa yang kau lakukan?”
“Berusaha memastikan Anda tidak mati di lantai penginapan saya.”
“Di mana pedangku?”
“Masih Anda pegang.”
Lelaki itu menunduk. Setelah memastikan gagang pedang patah itu masih berada di samping tubuhnya, ia melepaskan pergelangan Alika.
“Maaf.”
“Permintaan maaf diterima setelah Anda menjawab pertanyaan.”
“Aku harus kembali.”
“Kembali ke mana?”
“Awanara.”
Alika menuangkan cairan antiseptik ke kain bersih.
“Awanara? Itu nama tempat asal Anda?”
“Itu kerajaanku.”
“Anda juga memanggil saya Putri Pencuri Hari.”
Tubuh lelaki itu menegang.
Alika menempelkan kain ke lukanya. Pria itu mengatupkan rahang, tapi tidak mengeluh.
“Nama Anda,” kata Alika. “Lengkap.”
“Andhika Pratama.”
“Pekerjaan?”
Satu alis Andhika terangkat. Pertanyaan itu jelas membuatnya heran.
“Putra mahkota Awanara.”
Tangan Alika berhenti.
“Ada jawaban yang lebih masuk akal?”
“Itulah kedudukanku.”
“Baik. Putra mahkota dari kerajaan yang tidak ada di peta keluar dari lift rusak di penginapan nenek saya.”
“Lift?”
Alika menunjuk pintu besi di ujung lobi.
“Benda tempat Anda jatuh.”
Andhika memandangi lift itu cukup lama. Wajahnya kehilangan sedikit warna.
“Itu bukan lift.”
“Bentuknya lift.”
“Itu Jalur Teduh.”
“Namanya boleh apa saja. Kabelnya sudah diputus puluhan tahun.”
Alika kembali membersihkan lukanya.
“Apa yang terjadi sebelum Anda muncul di sini?”
Andhika melirik jendela sebelum menjawab. Hujan di luar sudah kembali turun seperti biasa, tapi genangan di halaman lebih sedikit daripada seharusnya.
“Awanara kehilangan satu hari.”
Alika menunggu.
“Satu hari dalam arti tanggal kalender?”
“Hari terakhir.”
“Terakhir dari apa?”
Andhika menatapnya.
“Kerajaanku.”
Alika memasukkan kain kotor ke dalam baskom.
“Jawaban Anda memang selalu terdengar penting, tapi tidak pernah cukup jelas.”
“Aku sendiri belum memahami seluruhnya.”
“Lalu mengapa Anda menuduh keluarga saya?”
“Karena jalur membawaku kemari.”
“Lift membawa Anda kemari.”
“Jalur memilih tempat berdasarkan nama yang memanggilnya.”
“Nama siapa?”
Andhika mengalihkan wajah.
Alika mulai membalut lukanya. Lilitan dibuat cukup rapat untuk menahan darah, tapi tidak sampai mengganggu pernapasan.
Andhika memperhatikannya.
“Kau bukan tabib.”
“Bukan.”