Ketika Hujan Pulang Ke Langit

A.A.Pusung
Chapter #3

BAB 3 Uang Muka untuk Seorang Pangeran

Jodi Tulus datang ke Paviliun Teduh sebelum pukul delapan pagi dengan membawa ransel, mikrofon, kamera kecil, dan sebungkus bubur ayam yang minyaknya mulai merembes keluar dari bungkus plastik.

Ia berdiri di depan meja resepsionis sambil memperhatikan semua jam di lobi.

Semua jarum bergerak mundur.

Kecuali satu jam kecil di dekat tangga yang berhenti tepat pada pukul 03.14.

“Jadi,” katanya, “pesanmu tadi itu minta bantuan atau ide konten?”

Alika menerima bungkus bubur dari tangannya.

“Permintaan bantuan.”

“Sayang sekali.”

“Jodi.”

“Aku datang, kan?”

Jodi menurunkan ransel ke lantai. Matanya berhenti pada buku tamu tua yang terbuka di atas meja.

Nama Andhika Pratama tertulis pada halaman yang telah menguning, di antara catatan kedatangan tamu dari tiga abad lalu.

Tinta tulisannya memudar, tetapi bentuk hurufnya sama dengan tanda tangan Andhika yang dibuat beberapa jam sebelumnya.

Jodi membungkuk semakin dekat.

“Ini asli?”

“Kalau aku tahu, aku tidak akan memanggilmu.”

“Biasanya orang memanggil polisi.”

“Aku mencoba.”

“Lalu?”

“Begitu aku menyebut ada pria berpakaian kerajaan yang keluar dari lift mati, petugasnya bertanya apakah aku sedang membuat konten.”

Jodi mengangguk.

“Ya... masuk akal.”

Alika menatapnya.

“Bukan berarti aku setuju, ya.”

Suara langkah terdengar dari lantai atas.

Andhika muncul di ujung tangga dengan satu tangan menahan sisi tubuhnya. Luka di pinggangnya telah dibalut, tetapi sebagian kain kembali memerah. Ia masih mengenakan celana dan kemeja gelap dari malam sebelumnya. Mantel birunya sudah dilipat di kamar, sementara pedang patah tergantung di pinggangnya dengan ikatan kain.

Alika segera berdiri.

“Aku sudah menyuruhmu tetap di kamar.”

“Aku tidak terbiasa menerima perintah di tempat asing.”

“Itu bukan alasan yang bagus.”

“Di kerajaanku, itu alasan yang cukup.”

“Di penginapanku, tidak.”

Mata Jodi bolak-balik antara Alika dan Andhika.

“Dia memang bicara seperti itu terus?”

“Sayangnya.”

Setelah menuruni anak tangga terakhir, Andhika mengamati Jodi dan mikrofon yang mencuat dari tas.

“Siapa dia?”

“Sahabatku,” jawab Alika. “Jodi Tulus.”

Jodi mengulurkan tangan. “Pembuat podcast, peneliti amatir, dan satu-satunya orang yang datang membawa bubur ketika dipanggil pagi-pagi.”

Andhika memandangi tangan terulur itu seperti orang yang baru saja ditawari jebakan.

Setelah beberapa saat, ia meletakkan telapak tangannya di atas kepalan sendiri dan sedikit menunduk.

“Andhika Pratama. Putra Maharani Malika. Pewaris takhta Awanara.”

Jodi perlahan menarik tangannya.

“Baik. Aku cuma mau salaman.”

Andhika berpaling kepada Alika. “Salaman itu apa?”

“Begitulah orang modern menyapa.”

Jodi mengerutkan dahi. “Bukan begitu asalnya.”

“Aku sedang menyederhanakan.”

“Aku malah lebih suka versimu.”

Andhika berjalan menuju meja resepsionis dengan bahu yang akhirnya sedikit mengendur. Perhatiannya langsung tertuju ke buku tamu lama.

Lihat selengkapnya