Ketika Hujan Pulang Ke Langit

A.A.Pusung
Chapter #4

BAB 4 Dua Belas Kamar dan Satu Larangan

BAB 4

Dua Belas Kamar dan Satu Larangan

Foto hitam putih itu tergeletak di tengah meja resepsionis. Sudah lama mereka bertiga mengutak-atiknya. Tetap saja tidak ada jawaban yang masuk akal.

Jodi akhirnya menyerah duluan.

“Mungkin leluhurmu.”

Andhika masih menatap foto. “Wajah kami sama.”

“Kembar jauh?”

“Tiga ratus tahun?”

Jodi mengangkat bahu. “Gen keluarga kerajaan mungkin sangat disiplin.”

Alika mengambil kaca pembesar dari kotak perkakasnya. Ia memeriksa permukaan foto, memiringkannya sedikit ke arah cahaya, lalu membaliknya lagi.

Tidak ada tanda foto itu pernah diubah. Tidak ada lapisan tambahan atau kerusakan yang bisa menjelaskan kenapa wajah di foto itu begitu mirip dengan Andhika.

Foto itu asli.

Paling tidak, kertas dan teknik cetaknya sesuai dengan perkiraan usia yang tertulis di belakang.

Paviliun Teduh, tahun ke-312 setelah Perjanjian Hujan.

Alika mengerutkan dahi.

“Apakah Awanara memakai hitungan tahun seperti ini?”

Andhika membaca tulisan di belakang foto lagi.

“Perjanjian Hujan adalah awal kalender lama kerajaan.”

“Berarti foto ini dari duniamu?”

“Tidak.” Andhika menunjuk bangunan dalam foto. “Ini Paviliun Teduh. Tapi pohon di belakangnya tumbuh di Pulau Teduh.”

Jodi menarik kursi.

“Aku mulai merasa bubur tadi tidak cukup untuk percakapan ini.”

Alika membalik foto. “Kamu bilang tidak pernah datang kemari.”

“Aku tidak berbohong.”

“Namamu ada di buku tamu. Wajahmu ada di foto. Sekarang pohon dari kerajaanmu pernah tumbuh di halaman penginapanku.”

“Aku mengatakan apa yang kuketahui.”

“Itu masalahnya. Yang kamu ketahui selalu berhenti sebelum berguna.”

Andhika akhirnya menatapnya. “Dan kau selalu meminta jawaban seolah kebenaran harus menyesuaikan waktu yang kau sediakan.”

“Biasanya memang begitu.”

Jodi mengangkat kedua tangan. “Sebelum kalian mulai seperti pasangan yang sudah menikah sepuluh tahun, aku punya usul.”

Alika dan Andhika menoleh bersamaan.

Jodi berhenti.

“Bukan pasangan. Maksudku—ya, sudahlah. Perbandingannya buruk.”

Ia membuka ransel dan mengeluarkan buku catatan bergaris.

“Kita butuh aturan.”

“Untuk apa?” tanya Alika.

“Supaya kita tidak mati duluan sebelum menemukan penjelasan.”

Jodi menulis judul besar di halaman pertama.

ATURAN DARURAT PAVILIUN TEDUH

Lalu ia mulai menulis.

Satu: Jangan masuk lift mati.

Dua: Jangan menyentuh benda kerajaan tanpa sarung tangan.

Tiga: Jangan menerima pembayaran berupa logam asing, janji takhta, atau tutup botol.

Andhika membaca dari atas bahunya.

“Poin ketiga merendahkan kedudukanku.”

“Itu memang maksudnya.”

Jodi menulis lagi.

Empat: Jangan membuka pintu yang kemarin tidak ada.

Alika mengerutkan dahi. “Belum ada pintu seperti itu.”

“Bagus. Berarti kita sudah punya aturan sebelum pintunya muncul.”

“Kalau begitu tambahkan jangan berbicara dengan lemari.”

Jodi langsung menulis.

Alika menatapnya. “Aku bercanda.”

“Kita tidak tahu.”

“Kita tidak tahu apa?”

“Lemari di tempat ini bisa melakukan apa.”

Alika membuka mulut, lalu mengurungkan niatnya.

Andhika mengambil foto lama dan mendekatkannya ke cahaya jendela.

“Ada yang tidak tepat.”

“Apa lagi?” tanya Alika.

“Jarak antara kamar enam dan tujuh.”

Foto itu hanya memperlihatkan bagian depan Paviliun. Meski begitu, sisi bangunan di foto terlihat lebih panjang daripada bangunan yang sekarang.

Alika melirik lorong lantai dua.

Kemarin ia sudah mengukur bangunan itu. Menurut denah dari notaris, enam kamar berada di sisi utara dan enam di sisi selatan. Lift tepat di tengah. Tidak ada ruang tersisa untuk bangunan tambahan.

“Kita ukur lagi.”

Mereka membawa pita ukur, denah lama, dan denah dari notaris.

Aturan darurat Jodi juga ikut.

Entah untuk apa.

Andhika berjalan paling lambat karena lukanya. Setiap beberapa langkah ia menekan sisi tubuhnya. Alika melihatnya, tapi tidak berkata apa-apa. Percuma. Kalau disuruh kembali ke kamar, pria itu pasti menolak.

Lorong lantai dua diterangi lampu kuning yang terlalu redup. Dinding kayu gelapnya dihiasi pola bunga hujan. Enam pintu di kiri tangga. Enam lagi di kanan.

Alika mulai dari kamar satu.

Jarak antarpintu diukur. Lebar kamar. Panjang lorong. Semua dicatat.

Kamar satu sampai enam sesuai denah.

Begitu juga kamar tujuh sampai dua belas.

Tapi setelah semua ukuran dijumlahkan, ada selisih hampir tiga meter.

Lihat selengkapnya