Foto hitam putih itu tergeletak di tengah meja resepsionis. Mereka bertiga sudah cukup lama membolak-balik foto itu tanpa menemukan jawaban yang masuk akal.
Jodi menjadi orang yang menyerah lebih dulu.
“Mungkin... leluhurmu?”
Andhika tidak mengalihkan mata dari foto. “Wajah kami sama.”
“Kembar jauh?”
“Tiga ratus tahun?”
“Jangan-jangan gen keluarga kerajaan memang awet.”
Alika mengambil kaca pembesar dari kotak perkakasnya, lalu memeriksa permukaan foto. Tidak terlihat tanda penyuntingan, lapisan tambahan, atau kerusakan yang dapat menciptakan wajah secara kebetulan.
Foto itu memang asli.
Setidaknya bahan kertas dan teknik cetaknya sesuai dengan usia yang dicantumkan di bagian belakang.
Paviliun Teduh, tahun ke-312 setelah Perjanjian Hujan.
Tulisan itu bukan penanggalan yang dikenal Alika.
“Apakah Awanara memakai hitungan tahun seperti ini?” tanyanya.
Andhika membaca tulisan di belakang foto sekali lagi.
“Perjanjian Hujan adalah permulaan kalender lama kerajaan.”
“Berarti foto ini berasal dari duniamu?”
“Tidak.” Andhika menunjuk bangunan dalam foto. “Ini Paviliun Teduh. Tetapi pohon di belakangnya tumbuh di Pulau Teduh.”
Jodi menarik kursi dan duduk.
“Aku mulai merasa bubur tadi tidak cukup untuk percakapan ini.”
Alika membalik foto itu. “Kamu bilang tidak pernah datang kemari.”
“Aku tidak berbohong.”
“Namamu ada di buku tamu. Wajahmu ada di foto. Sekarang kamu bilang pohon dari kerajaanmu pernah tumbuh di halaman penginapanku.”
“Aku cuma mengatakan yang kuketahui.”
“Itu masalahnya. Yang kamu tahu selalu nanggung.”
Andhika akhirnya mengangkat wajah. “Dan kau selalu meminta jawaban seolah kebenaran harus menyesuaikan waktu yang kau sediakan.”
“Biasanya memang begitu.”
Jodi mengangkat kedua tangan. “Sebelum kalian berdebat seperti pasangan yang sudah menikah sepuluh tahun, aku punya usul.”
Alika dan Andhika memandangnya bersamaan.
Jodi menelan sisa kalimatnya.
“Bukan pasangan. Jelas bukan. Aku cuma menggunakan perbandingan yang buruk.”
Ia membuka ransel dan mengeluarkan buku catatan bergaris.
“Kita butuh aturan.”
“Untuk apa?” tanya Alika.
“Buat jaga-jaga. Sampai kita tahu ada apa. Atau sampai ada yang jadi korban.”
Jodi menulis judul besar pada halaman pertama.
ATURAN DARURAT
PAVILIUN TEDUH
Di bawahnya ia menambahkan beberapa poin.
Satu: Jangan masuk lift mati.
Dua: Jangan menyentuh benda kerajaan tanpa sarung tangan.
Tiga: Jangan menerima pembayaran berupa logam asing, janji takhta, atau tutup botol.
Andhika membaca dari atas bahunya.
“Poin ketiga itu merendahkan kedudukanku.”
“Memang.”
Jodi kembali menulis.
Empat: Jangan membuka pintu yang kemarin tidak ada.
Alika mengerutkan dahi. “Belum ada pintu seperti itu.”
“Justru lebih baik kita membuat aturan sebelum terlambat.”
“Kalau begitu tambahkan jangan berbicara dengan lemari.”
Jodi menulisnya.
Alika menatapnya. “Aku bercanda.”
“Kita tidak tahu lemari di tempat ini mampu melakukan apa.”
Andhika mengambil foto lama dan mendekatkannya ke cahaya jendela.
“Ada yang tidak tepat.”
“Apa lagi?” tanya Alika.