Ketika Hujan Pulang Ke Langit

A.A.Pusung
Chapter #5

BAB 5 Lelaki yang Tidak Memiliki Bayangan

Andhika meninggalkan Paviliun Teduh ketika matahari belum sepenuhnya naik.

Ia tidak berniat melarikan diri.

Setidaknya, itu alasan yang ia pakai saat membuka pintu perlahan agar tidak membangunkan Alika dan sahabatnya yang tertidur di ruang makan.

Setelah pintu tanpa nomor muncul malam sebelumnya, mereka berjaga sampai menjelang subuh. Jodi tertidur lebih dulu dengan kepala di atas meja dan buku peraturan darurat menempel di pipinya. Alika menyusul di kursi dekat meja resepsionis, masih menggenggam kunci kuningan peninggalan Rukmini.

Andhika seharusnya tetap berada di kamar tujuh.

Lukanya masih terasa setiap kali ia menarik napas terlalu dalam. Perban yang dipasang Alika juga mulai menegang di sisi tubuhnya.

Menunggu bukan sesuatu yang diajarkan kepada seorang calon raja.

Di Awanara, tujuh pulau sedang menuju hari terakhirnya. Rakyatnya mungkin bangun setiap malam dengan satu kenangan lebih sedikit. Ibunya mungkin masih berdiri di ruang takhta, berpura-pura tidak takut, sementara jalan-jalan kerajaan mengubah arah karena orang-orang mulai melupakan tujuan mereka.

Andhika tidak dapat terus duduk di penginapan, menerima obat, makanan, dan tatapan curiga seorang perempuan yang menagih uang muka kepada putra mahkota.

Ia harus mencari jalur pulang.

Jalan di depan Paviliun Teduh sudah ramai. Kendaraan datang dari dua arah, diiringi deru mesin dan klakson yang saling bersahutan. Orang-orang berjalan terburu-buru sambil melihat layar tipis yang menyala di tangan mereka.

Andhika berdiri di tepi trotoar, mencoba memahami aturan kota itu.

Tidak ada pola yang jelas.

Orang-orang menyeberang ketika kendaraan berhenti. Beberapa kendaraan justru mempercepat lajunya ketika seseorang mencoba lewat. Sebagian orang mengikuti lampu, sebagian lain mengikuti keberanian.

Ia menarik mantel untuk menutupi pedang patah di pinggangnya.

Dua anak muda yang berjalan melewatinya berhenti.

“Keren, Mas,” kata salah seorang dari mereka.

Andhika menoleh. “Apa?”

“Kostumnya.”

“Kostum?”

“Cosplay kerajaan, kan?”

Anak muda itu mengangkat ponsel. “Boleh foto?”

“Aku tidak sedang menyamar.”

“Lebih keren lagi. Totalitas karakter.”

Sebelum Andhika dapat menjawab, keduanya sudah berdiri di sampingnya dan mengambil gambar. Salah seorang membuat tanda dua jari, sementara yang lain menyuruh Andhika memasang wajah lebih galak.

“Aku tidak memberikan izin.”

“Wah, dialognya juga masuk karakter.”

Mereka pergi sambil tertawa.

Andhika memandangi punggung mereka dengan rasa terhina yang sulit ia jelaskan.

Di Awanara, orang dapat dihukum karena berbicara sembarangan kepada keluarga kerajaan. Di Tirakarta, rupanya penghinaan malah dianggap pujian untuk kostum.

Ia melanjutkan perjalanan.

Setelah berjalan cukup jauh, ia menemukan sebuah bangunan besar dengan pintu kaca yang dapat membuka dan menutup sendiri. Orang-orang keluar masuk sambil membawa kantong makanan.

Andhika mengikuti salah satu dari mereka.

Udara dingin langsung menyambutnya. Cahaya putih memenuhi langit-langit. Berbagai aroma makanan bercampur, membuat perutnya yang kosong sejak malam tadi langsung berbunyi.

Ia mendekati salah satu meja pemesanan.

Seorang pegawai muda memeriksa pakaiannya, lalu tersenyum ragu.

“Selamat pagi. Mau pesan apa, Kak?”

Andhika mengamati gambar-gambar makanan yang tergantung di belakang pegawai itu.

“Aku butuh makanan untuk perjalanan. Yang bisa tahan dua hari.”

Pegawai itu diam sejenak.

“Jadi… mau paket yang mana?”

“Berikan makanan terbaik yang tersedia. Daging, roti, dan air. Tidak perlu rempah berlebihan.”

“Paket ayam?”

“Kalau itu yang terbaik, berikan.”

“Pedas atau tidak?”

“Apa?”

“Pedas?”

Andhika tidak tahu seberapa berbahaya pilihan itu. “Sedang.”

“Minumnya?”

“Air.”

“Dingin atau biasa?”

Lihat selengkapnya