Ketika Hujan Pulang Ke Langit

A.A.Pusung
Chapter #6

BAB 6 Pasar Setelah Tengah Malam

Perempuan yang keluar dari dapur Paviliun Teduh pukul sebelas malam membawa pisau besar di satu tangan dan sekeranjang bawang di tangan lainnya.

Alika hampir menjatuhkan gelas.

Andhika langsung berdiri, meski gerakannya membuat wajahnya menegang karena luka. Jodi bersembunyi di belakang kursi, tetapi ponselnya masih terangkat, kameranya mengarah ke perempuan itu.

Perempuan itu mengenakan kebaya abu-abu sederhana. Rambut hitamnya disanggul rapi. Usianya susah ditebak. Empat puluhan, mungkin. Tapi sikapnya tenang, seolah ia sudah tahu lebih banyak daripada yang ingin ia katakan.

Raras lebih dulu melihat Andhika.

“Kau seharusnya berada di tempat tidur.”

Andhika membeku.

“Raras?”

Perempuan itu meletakkan keranjang bawang di meja.

“Kau masih mengenaliku. Syukurlah. Aku sudah bersiap memukul kepalamu dengan gagang pisau.”

Jodi mengintip dari balik kursi. “Itu cara menyambut putra mahkota?”

“Cara itu selalu berhasil ketika ia masih berumur sepuluh tahun.”

Rahang Andhika mengeras. “Aku bukan anak kecil lagi.”

“Kau meninggalkan kamar dalam keadaan terluka dan mencoba menjelajahi kota tanpa uang.”

Alika menoleh kepadanya. “Bagaimana Anda tahu?”

Raras menunjuk sekeliling.

“Paviliun ini suka bergosip.”

Kayu di dinding berderak pelan.

Raras melirik ke sana.

“Dan tidak tahu malu.”

Alika bangkit.

“Siapa Anda, dan bagaimana Anda masuk ke dapur saya?”

“Namaku Raras Maheswari. Aku mengurus dapur ini sebelum nenekmu memutuskan menghilang tanpa meninggalkan jadwal belanja.”

“Nenek saya meninggal.”

Raras menatap Alika cukup lama.

“Begitulah yang dipercaya keluarga kalian.”

Alika hendak bertanya lagi, tetapi Raras sudah mengangkat tangan.

“Bukan malam ini.”

“Semua orang di tempat ini bilang begitu setiap kali pertanyaannya penting.”

“Karena pertanyaan penting jarang punya jawaban pendek.”

“Coba saya yang menilai.”

Raras mendekati Andhika dan langsung memeriksa perbannya. Dua jarinya menekan sisi luka.

Andhika meringis.

“Belum terbuka lagi,” kata Raras. “Tapi kalau kau berkeliaran lagi, akan kuberi obat tidur.”

“Aku putra mahkota.”

“Dulu kau juga putra mahkota ketika menangis karena tersangkut di pohon bunga rindu.”

Jodi keluar dari balik kursi. “Saya ingin dengar cerita itu.”

“Kau tidak akan mendengarnya,” kata Andhika.

“Aku bisa membayar.”

Raras menoleh kepadanya. “Dengan apa?”

“Uang manusia.”

“Benda yang kehilangan nilai setiap kali seseorang berpidato di televisi?”

Jodi memasukkan dompetnya lagi.

Alika tidak terlalu peduli pada masa kecil Andhika. Meski begitu, cerita soal pohon itu terdengar seperti sesuatu yang mungkin berguna nanti.

Ia menunjuk ponsel Jodi yang masih menampilkan foto dua Andhika.

“Anda tahu apa itu?”

Raras melirik layar.

Wajahnya berubah.

“Siapa yang mengambil gambar ini?”

“Saya. Maksud saya, ponsel saya.”

“Foto itu tidak boleh berada di luar Paviliun.”

“Kenapa?”

“Pantulan itu bisa menarik pemiliknya.”

Raras mengambil ponsel itu, mematikan layarnya, lalu memasukkannya ke saku kebayanya.

Jodi membuka mulut.

“Aku akan mengembalikannya kalau kita masih hidup sampai subuh.”

Jodi langsung menutup mulut lagi.

Andhika berdiri di samping Alika.

“Bayanganku menghilang.”

“Aku tahu.”

“Apa yang ada dalam foto itu?”

“Belum menjadi seseorang.”

Raras melirik pedang patah di pinggang Andhika.

“Tapi semakin lama kau berada di sini, semakin kuat sesuatu di seberang sana mencoba mendapatkan bentuk.”

“Bagaimana cara menghentikannya?” tanya Alika.

Raras mengambil keranjang bawangnya.

“Kita bertanya kepada orang-orang yang menjual jawaban.”

“Siapa?”

“Pedagang Pasar Antara.”

Jodi mengangkat tangan. “Pasarnya ada di peta?”

“Tidak.”

“Punya akun media sosial?”

Lihat selengkapnya