Andhika tidak tidur setelah kembali dari Pasar Antara.
Ia berbaring di kamar tujuh dengan mata terbuka, mendengarkan hujan biasa yang sesekali mengetuk jendela. Pedang patah itu diletakkan di atas meja, cukup dekat untuk diraih kalau pintu tanpa nomor muncul lagi.
Tapi bukan kamar ketiga belas yang terus mengganggu pikirannya.
Alika.
Perempuan itu menyerahkan satu kenangan kepada pedagang tadi tanpa benar-benar tahu apa yang akan hilang. Ia masih ingat ibunya. Masih ingat tangan yang mengusap rambutnya, masih ingat cahaya lampu kecil di kamar masa kecilnya.
Hanya lagunya yang hilang.
Dan harga itu dibayar untuk membantu Andhika.
Alika mungkin akan membantah kalau disebut begitu. Ia akan bilang transaksi itu dilakukan untuk memahami pedang, Paviliun, atau apa pun yang sedang mengancam dua dunia.
Andhika tahu bedanya kewajiban dan kepedulian.
Ia tumbuh di istana yang dipenuhi orang-orang yang melakukan sesuatu karena tugas. Semuanya punya alasan. Ada aturan untuk menolong, aturan untuk berbicara, bahkan aturan tentang bagaimana seseorang seharusnya berdiri ketika berbicara kepada keluarga kerajaan.
Alika tidak begitu.
Ia menolong sambil mengeluh. Memberi kamar sambil mengingatkan tagihan. Mengganti perban sambil mengancam akan membiarkannya pingsan kalau tidak menurut.
Dan sekarang perempuan itu kehilangan sebuah lagu.
Karena urusan Andhika.
Ketukan terdengar di pintu.
“Masuk.”
Pintu terbuka. Alika berdiri di sana dengan dua cangkir minuman panas. Rambutnya diikat sembarangan. Wajahnya sama lelahnya dengan Andhika.
“Aku membawa teh.”
Andhika duduk. “Kau tidak mengetuk sebagai pemilik penginapan.”
“Aku mengetuk supaya tidak melihat putra mahkota berganti pakaian.”
“Aku dapat memastikan pemandangan itu tidak akan membahayakanmu.”
Alika menatapnya.
Andhika baru sadar kalimatnya terdengar lain dari yang ia maksud.
“Aku tidak bermaksud—”
“Aku tahu. Itu yang membuatnya lebih buruk.”
Ia meletakkan cangkir di meja, cukup jauh dari pedang.
Andhika mengambilnya. Aroma jahe dan gula langsung terasa.
“Raras bilang kau belum menjelaskan semuanya,” kata Alika.
“Aku sudah menjelaskan bagian yang kuketahui.”
“Tidak. Kamu kasih potongan-potongan, terus berhenti. Bagian pentingnya malah belum ada.”
“Aku tidak bermaksud terdengar dramatis.”
“Itu bakat alami, rupanya.”
Andhika menatap teh di tangannya. Percakapan ini memang sudah tidak bisa ditunda.
“Awanara punya kalender yang berbeda dari duniamu,” katanya. “Setiap tahun berakhir setelah malam ketujuh pada musim hujan pertama. Hari terakhir bukan cuma penanda waktu. Hari itu menyimpan ingatan tentang semua yang berakhir sepanjang tahun.”
Alika duduk di kursi dekat jendela.
“Ingatan siapa?”
“Semua orang.”
“Bagaimana mungkin satu hari menyimpan ingatan seluruh kerajaan?”
“Di Awanara, waktu tidak cuma berjalan. Ia ditenun ke dalam nama, jalan, dan tempat. Hari terakhir menjaga agar sesuatu yang sudah selesai tetap diakui pernah ada.”
Alika mengerutkan dahi.
“Lalu hari itu hilang?”
Andhika mengangguk.
“Tujuh malam lalu, lonceng akhir tahun berbunyi. Tapi matahari tidak pernah sampai ke pagi. Ketika malam berakhir, kerajaan kembali ke awal malam yang sama.”
“Berulang?”
“Ya.”
“Pada malam pertama, semua orang masih ingat pengulangan itu. Malam kedua, sebagian penduduk mulai lupa bahwa mereka pernah mengalaminya. Malam ketiga, jalan-jalan berubah karena orang melupakan tujuan mereka. Kapal-kapal kembali ke pelabuhan tanpa ingat kenapa mereka berlayar.”
Alika diam.
“Pada malam keempat, beberapa penjaga lupa nama pulau tempat mereka lahir. Malam kelima, anak-anak mulai tidak mengenali lagu yang dinyanyikan ibu mereka.”
Andhika berhenti sebentar.
Andhika teringat lagu yang baru hilang dari ingatan Alika.
“Setiap malam,” lanjutnya, “kerajaan kembali ke titik yang sama. Tapi ingatan kami tidak ikut kembali. Ada sesuatu yang terus mengambilnya.”
“Berapa malam yang sudah berlalu saat kamu jatuh dari lift?”
“Enam.”
Alika langsung menegakkan tubuh.
“Berarti tinggal satu malam.”
“Kalau waktu Awanara masih bergerak dengan cara yang sama.”
“Dan setelah malam ketujuh?”
Andhika menatap jendela.
Di luar, langit Tirakarta mulai terang. Yang muncul di kepalanya justru menara istana, jalan-jalan Pulau Mahkota, dan orang-orang yang mungkin sekarang sudah mulai lupa siapa mereka.
“Orang-orang tidak langsung mati,” katanya. “Mereka masih ada, tapi perlahan tak ada lagi yang mengingat siapa mereka. Tempat-tempat masih ada, tapi tak ada yang tahu untuk apa tempat itu. Kalau dibiarkan, Awanara akan menjadi kerajaan yang tidak tahu kalau dirinya pernah hidup.”
Alika berdiri.
“Kita harus cari jalan pulang sekarang.”
Andhika menatapnya.
“Kau percaya?”