Alika membaca peringatan Rukmini sebanyak tujuh kali.
Membaca sampai tujuh kali juga tidak membuat kalimat itu lebih masuk akal.
Nama Andhika tetap ada di sana, jelas. Tidak mungkin salah baca.
Surat itu tidak menjelaskan apa-apa. Tidak ada tanggal. Tidak ada alasan mengapa neneknya mengetahui nama lelaki yang baru keluar dari lift beberapa malam sebelumnya.
Lebih buruk lagi, tulisan itu tampak baru. Tintanya belum memudar seperti surat-surat lama lain yang ditemukan Alika. Rasanya seperti surat itu ditulis beberapa hari lalu, padahal Rukmini sudah menghilang hampir setahun.
Andhika berdiri di sisi lain meja resepsionis.
“Apakah tulisan itu benar milik nenekmu?”
“Ya.”
“Dia pernah memalsukan tulisan tangan orang?”
“Tidak.”
“Jadi dia mengenalku?”
“Belum tentu.”
“Namaku tertulis lengkap.”
“Bisa saja dia mengetahui nama dari buku tamu.”
“Buku itu mencatatku tiga ratus tahun lalu.”
“Tidak membantu.”
Jodi berdiri di tengah mereka sambil memegang ponsel.
“Aku ingin mengajukan teori.”
“Tidak,” kata Alika.
“Kau belum mendengarnya.”
“Itu sebabnya aku masih bisa menolak.”
Jodi tetap melanjutkan.
“Mungkin Nenek Rukmini bisa lihat masa depan dan tahu kalian bakal jatuh cinta, terus ninggalin peringatan karena kalian nanti malah menghancurkan dua dunia.”
Alika melipat kertas.
“Kamu terlalu banyak mendengarkan podcast buatanmu sendiri.”
“Aku tidak mendengarkan podcast sendiri. Itu terdengar menyedihkan.”
Andhika masih memandangi surat.
“Kalau Rukmini sampai melarangmu dekat denganku, pasti ada alasannya. Bisa jadi... perasaanmu memang berpengaruh ke jalur Awanara.”
Alika memasukkan surat ke dalam kotak.
“Tidak ada perasaan.”
“Aku tidak mengatakan sudah ada.”
“Baguslah.”
“Jawabanmu cepat sekali.”
Alika menatapnya.
Andhika tidak tersenyum, tetapi ada godaan yang tidak disengaja dalam tatapannya.
Itu lebih mengganggu daripada godaan yang direncanakan.
“Kita membutuhkan aturan tambahan,” kata Alika.
Jodi mengambil buku peraturan daruratnya.
“Akhirnya.”
“Bukan aturanmu.”
“Kenapa semua orang meremehkan dokumen yang paling siap menghadapi keadaan?”
“Karena ada poin larangan berbicara dengan lemari.”
“Sampai sekarang belum ada lemari yang menyerang kita. Berarti aturannya efektif.”
Alika mengambil selembar kertas dan menulis judul.
ATURAN PROFESIONAL ANTARA PEMILIK PAVILIUN DAN TAMU KAMAR TUJUH
Andhika berdiri di sampingnya.
“Kenapa aku tetap disebut tamu kamar tujuh?”
“Karena itu identitasmu yang paling praktis.”
“Aku mempunyai gelar.”
“Gelar itu nggak ada hubungannya sama aturan ini.”
“Apa isi aturannya?”
Alika menulis poin pertama.
“Satu, kita menjaga jarak setidaknya satu langkah jika tidak ada keadaan darurat.”
Andhika mengukur jarak di antara mereka.
“Langkah siapa?”
“Yang normal.”
“Langkahku lebih panjang daripada langkahmu.”
“Satu meter.”
“Aku kurang paham ukuran itu.”
Jodi menyela, “Kira-kira sejauh kalian berdiri sekarang.”
Alika baru sadar Andhika berada terlalu dekat. Ia mundur satu langkah.
“Dua,” lanjutnya, “tidak ada percakapan pribadi setelah tengah malam.”
“Mengapa?”