Pulau Arunika menghilang dari langit Tirakarta tiga menit setelah Alika melepaskan tangan Andhika.
Tiga menit sudah cukup untuk membuat jalan di depan Paviliun Teduh macet, sirene meraung dari dua arah, dan ratusan video beredar di internet dengan judul yang semakin tidak masuk akal.
PULAU TERBANG MUNCUL DI ATAS KOTA.
PROMOSI FILM ATAU SERANGAN MAKHLUK ASING?
FENOMENA AWAN MIRIP KERAJAAN GAIB.
Jodi duduk di depan laptop sambil membaca komentar warganet dengan wajah muram.
“Mereka bilang ini promosi festival,” katanya.
Alika menutup tirai lobi. “Bagus.”
“Mereka juga bilang pulaunya hasil kecerdasan buatan.”
“Lebih bagus.”
“Ada yang bilang kamu dan Andhika pasangan selebritas yang sedang syuting iklan.”
Alika berhenti.
“Matikan internet.”
“Aku tidak punya kuasa sebesar itu.”
Andhika berdiri di dekat meja resepsionis. Jodi membacakan salah satu komentar untuknya. Luka di pinggangnya belum pulih, tetapi sejak melihat Pulau Arunika, wajah Andhika tampak lebih hidup.
“Dia bilang rahangku terlalu sempurna.”
Jodi menoleh. “Kok kamu malah mikirin itu?”
“Aku cuma mau ngerti cara orang di sini lihat ancaman.”
“Komentar, meme, tuduhan promosi.”
“Tidak ada yang takut?”
“Mereka takut. Biasanya orang sini bercanda dulu. Habis itu baru panik.”
Alika mengambil foto arsip banjir yang ditemukan dalam kotak Rukmini. Salah satu catatan di belakangnya menyebut Perpustakaan Kota Tirakarta sebagai tempat penyimpanan dokumen cuaca lama.
Mereka membutuhkan informasi tentang hujan terbalik. Kalau fenomena semacam itu pernah muncul sebelumnya, arsip kota mungkin menyimpan jejaknya.
“Kita pergi ke perpustakaan,” kata Alika.
Andhika langsung mengambil mantel.
“Kau tetap di sini.”
“Aku ikut.”
“Lukamu belum sembuh.”
“Aku dapat berjalan.”
“Kemarin kamu hampir ditangkap petugas keamanan karena mencoba membeli makanan dengan gelar kerajaan.”
“Itu kesalahpahaman.”
“Kesalahpahaman yang bisa terulang.”
Andhika memasang pedang patah di balik mantel.
“Kalau arsipnya berkaitan sama Awanara, aku mau lihat sendiri.”
Alika tahu kalau ia melarang, Andhika malah bisa pergi diam-diam lagi. Ia akhirnya setuju dengan beberapa syarat: pedang harus disembunyikan, Andhika tidak boleh mengaku sebagai putra mahkota kepada orang asing, dan Andhika harus mengikuti keputusan Alika selama berada di kota.
Andhika menerima syarat pertama dan kedua.
Syarat ketiga ia anggap sebagai penghinaan diplomatik.
Mereka meninggalkan Paviliun melalui pintu belakang agar tidak bertemu warga yang masih berkumpul di jalan depan. Jodi tinggal bersama Raras untuk memantau video dan memastikan tidak ada orang masuk ke halaman.
Perpustakaan kota berada hampir enam kilometer dari Paviliun. Alika memilih menggunakan bus kota karena jalan utama macet dan kendaraan daring sulit didapat.
Andhika memandang halte dengan curiga.
“Ini tempat kendaraan kerajaan berhenti?”
“Bukan kendaraan kerajaan. Bus.”
“Siapa pemiliknya?”
“Pemerintah kota.”
“Berarti kendaraan pemerintah.”
“Bukan berarti kamu boleh mengambil alih.”
Ketika bus datang, Andhika berhenti di depan pintu dan menunggu.
Orang-orang di belakangnya mulai berdesakan.
“Naik,” kata Alika.
“Aku menunggu dipersilakan.”
“Tidak ada yang akan mempersilakan.”
“Pengemudinya bahkan tidak turun.”
“Karena tugasnya mengemudi.”
Seseorang di belakang mereka mendecakkan lidah. Alika mendorong punggung Andhika hingga pria itu akhirnya masuk.
Masalah berikutnya adalah kartu pembayaran.