Pengamen di bawah jembatan menghilang ketika sebuah bus melintas dan menutup pandangan Alika dan Andhika.
Pengamen itu tidak pergi ataupun berlari. Beberapa detik sebelum pandangan mereka tertutup bus, lelaki itu masih berdiri sambil menunjuk Alika.
Setelah bus lewat, tempat itu kosong.
Alat musik bersenar tiga miliknya tertinggal di atas trotoar.
Andhika memeriksa area bawah jembatan dan gang terdekat, tetapi tidak menemukan jejak. Alika mengambil alat musik itu dengan saputangan. Kayunya terasa dingin, seperti baru saja berada di tempat yang tidak terkena matahari.
Di bagian belakangnya terukir lambang bunga hujan keluarga Wulandari.
Mereka membawa benda itu kembali ke Paviliun Teduh.
Jodi mendengarkan cerita mereka sambil mondar-mandir di lobi.
“Jadi pengamen itu bilang Alika perempuan yang bakal membelah raja, terus hilang begitu bus lewat?”
“Ya,” jawab Alika.
“Dan kalian tidak merekamnya?”
“Kami sedang sibuk mencoba memahami ancaman.”
Jodi memegang dadanya.
“Sebagai pembuat podcast, aku tersinggung, sih.”
Raras keluar dari dapur ketika melihat alat musik yang diletakkan Alika di meja.
Wajahnya langsung menegang.
“Dari mana kalian mendapatkannya?”
“Pengamen dekat perpustakaan,” kata Alika. “Dia menyanyikan lagu pemakaman Awanara.”
“Siapa namanya?”
“Dia tidak ingat.”
Raras menyentuh ukiran bunga hujan pada alat musik.
“Orang yang kehilangan Nama Ingatan masih bisa membawa kebiasaan. Kadang lagunya juga masih ingat. Rasa takut pun begitu. Cuma mereka sering lupa kenapa semua itu penting.”
“Dia mengenali lambang pedang Andhika.”
“Ingatan tubuh kadang bertahan lebih lama daripada cerita.”
Alika menyandarkan kedua tangan pada meja.
“Dia menyebut saya perempuan yang akan membelah seorang raja.”
Raras memilih diam.
Andhika berdiri di samping Alika.
“Kau memahami kalimat itu?”
“Orang yang kehilangan nama kadang mencampur masa lalu sama masa depan.”
“Itu belum menjawab.”
“Belum.”
Alika tertawa hambar.
“Aku harus pasang papan di lobi. ‘Jawaban penting belum tersedia.’”
Raras membawa alat musik itu ke dapur untuk disimpan. Sebelum pergi, ia meminta Alika memeriksa kotak arsip yang dibawa dari perpustakaan.
“Cari nama Widuri,” katanya.
Langkah Alika berhenti.
“Bibi Widuri?”
Raras tidak menoleh.
“Cari saja.”
Alika terakhir kali melihat Widuri Wulandari ketika berusia sembilan tahun. Perempuan itu datang saat pemakaman ibu Alika, mengenakan pakaian hitam dan berdiri jauh dari keluarga lain.
Widuri tidak menangis.
Ia hanya mendekati Alika, merapikan rambutnya, lalu berkata, “Jangan percaya seseorang hanya karena ia bersedia kehilangan segalanya untukmu.”
Setelah itu, Widuri pergi.
Keluarga mengatakan ia pindah ke luar negeri, tetapi tak seorang pun memiliki alamat, nomor telepon, atau kabar. Namanya jarang disebut, seakan keberadaannya telah menjadi aib keluarga.
Alika membuka dokumen yang mereka bawa.
Jodi duduk di sisi lain meja dengan laptop. Andhika berdiri di dekat rak buku, memperhatikan tanpa mengganggu.
Nama Widuri tidak ditemukan dalam laporan banjir utama. Ada satu artikel lama yang menyebut seorang perempuan Wulandari yang membantu korban kehilangan ingatan.
Tidak ada nama depan.
Foto di bawah artikel memperlihatkan seorang perempuan berdiri di depan Paviliun Teduh pada tahun 1972.
Alika mendekatkan gambar itu ke lampu.
Perempuan itu memiliki wajah Widuri.
Rambutnya disanggul lebih tinggi dan pakaiannya mengikuti mode masa itu, tetapi mata tajam serta garis bibirnya tidak berubah.
“Mungkin ini neneknya,” kata Jodi.
Alika membuka artikel berikutnya.
Foto tahun 1989 menunjukkan Widuri sedang membantu evakuasi warga dari sebuah gedung lama.
Wajahnya sama.
Tidak tampak lebih tua satu hari pun.
Jodi berhenti mengetik.
“Baik. Mungkin foto ini orang lain. Wajahnya memang mirip Widuri.”
Foto ketiga berasal dari tahun 2004.