Ketika Hujan Pulang Ke Langit

A.A.Pusung
Chapter #11

BAB 11 Kencan yang Tidak Diakui

Alika tidak pernah menyangka menyelamatkan kerajaan lain membuatnya harus mengenakan gaun biru tua dan berpura-pura jatuh cinta.

Masalah pertama adalah undangan.

Pesta Budaya Tirakarta hanya menerima tamu terbatas: pejabat kota, kolektor, kurator, serta orang-orang yang cukup kaya untuk menyebut benda curian sebagai koleksi pribadi. Salah satu benda yang dipamerkan malam itu diduga berasal dari Awanara.

Menurut arsip Jodi, artefak itu ditemukan setelah banjir besar puluhan tahun lalu. Tidak ada catatan pemilik pertama. Benda itu berpindah tangan berkali-kali sebelum dibeli seorang kolektor bernama Mahesa Wiratama.

Mahesa dikenal jarang mengizinkan siapa pun mendekati koleksinya.

Kecuali pasangan yang menurutnya menarik.

Jodi mendapatkan informasi itu dari seorang teman yang bekerja sebagai penyelenggara acara.

“Dia senang mengundang pasangan baru,” kata Jodi sambil membetulkan kerah jas Andhika. “Katanya, orang jatuh cinta lebih jujur ketika melihat benda berharga.”

“Aku tidak memahami hubungannya,” jawab Andhika.

“Entahlah. Dia memang suka ikut campur urusan orang.”

“Aku dapat datang sebagai putra mahkota.”

“Kamu mau menjelaskan Awanara kepada petugas keamanan?”

Andhika memandangi jas hitam yang dikenakannya seperti pakaian itu telah menghina seluruh leluhurnya. Jas itu dipinjam dari Jodi dan sedikit sempit pada bagian bahu.

“Pakaian ini membatasi gerak.”

“Kamu datang ke pesta, bukan perang.”

“Di kerajaan, susunan kursi saja bisa bikin orang ribut.”

Alika keluar dari kamar sebelum Jodi membalas.

Percakapan mereka berhenti.

Gaun yang dikenakannya sebenarnya sederhana. Potongannya mengikuti tubuh tanpa terlalu ketat, panjangnya mencapai mata kaki, dan bagian lengan dibiarkan terbuka. Raras memilihkannya dari lemari lama yang menyimpan pakaian dalam ukuran Alika.

Andhika diam beberapa detik lebih lama daripada yang seharusnya.

Alika menghitung dalam hati.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

“Lima detik,” katanya.

Andhika berkedip. “Apa?”

“Kamu melanggar aturan.”

“Aku cuma memastikan pakaianmu cocok untuk penyamaran.”

“Dengan menatap wajah saya?”

“Aku memeriksa keseluruhan.”

Jodi menahan senyum sambil pura-pura merapikan mikrofon kecil yang disembunyikan dalam saputangan jas.

“Kalau mau memuji, puji saja,” katanya.

Andhika mengabaikannya.

Alika mengambil tas kecil dari meja. “Kita berangkat.”

Andhika mengulurkan lengan.

Alika menatapnya.

“Apa lagi?”

“Pasangan biasanya berjalan seperti ini, bukan?”

“Itu bukan kewajiban.”

“Jodi mengatakan penyamaran harus meyakinkan.”

“Jodi juga mengatakan lemari dapat menyerang.”

“Sejauh ini, lemarinya belum menyerang.”

Alika akhirnya meletakkan tangan pada lengan Andhika.

Pria itu tersenyum tipis.

“Kamu terlalu menikmati penyamaran ini.”

“Aku hanya menjalankan peran dengan serius.”

“Itulah yang saya khawatirkan.”

Pesta diadakan di gedung tua bekas kantor pemerintahan kolonial yang telah diubah menjadi galeri. Lampu-lampu gantung memenuhi aula utama. Musik dimainkan oleh kelompok kecil di sudut ruangan, cukup pelan agar para tamu tetap dapat membicarakan harga benda dan reputasi satu sama lain.

Andhika tampak lebih nyaman begitu memasuki aula.

Punggungnya tegak, langkahnya teratur, dan raut wajahnya kembali tenang seperti bangsawan yang terbiasa diperhatikan.

“Sekarang kamu terlihat seperti putra mahkota,” bisik Alika.

“Aku memang putra mahkota.”

“Di bus kemarin, tidak terlalu terlihat.”

“Kendaraan itu merusak wibawa siapa pun.”

Seorang petugas memeriksa undangan mereka.

“Alika Wulandari dan pasangan?”

Alika hendak menjawab, tetapi Andhika lebih dahulu berkata, “Benar.”

Nada suaranya terlalu tegas untuk hubungan pura-pura.

Petugas tersenyum dan mempersilakan mereka masuk.

Alika mendekat ke telinganya. “Kamu bisa menjawab dengan lebih biasa.”

“Aku cuma menjawab pertanyaannya.”

“Kita tidak sungguh-sungguh.”

“Aku ingat.”

Nada Andhika membuat Alika sempat ragu apakah ia benar-benar menganggap penyamaran itu hal kecil.

Mereka menemukan artefak yang dicari di ruang samping aula.

Benda itu diletakkan dalam kotak kaca di atas meja hitam. Bentuknya menyerupai lempeng kaca kebiruan sebesar telapak tangan, dibingkai logam kusam dengan ukiran dua pulau yang saling membelakangi.

Lihat selengkapnya