Andhika menghabiskan malam setelah pesta budaya dengan mencoba mengingat seluruh mimpi masa kecilnya.
Ia hanya berhasil menemukan potongan-potongan: lampu gantung, gaun biru, tangan seorang perempuan yang menyentuh benda bercahaya, dan wajah Alika.
Dalam beberapa mimpi, Alika berdiri seusia sekarang. Dalam mimpi lain, ia tampak lebih tua dan memanggil Andhika kecil dengan nama yang tidak dapat diingat Andhika setelah bangun.
Selama bertahun-tahun, Andhika menganggap mimpi itu hanya akibat cerita pengasuh istana mengenai dunia manusia. Sekarang ia tahu sebagian gambaran itu ternyata merekam kejadian yang baru dialaminya.
Ia tidak suka memikirkan kemungkinan bahwa Alika sudah muncul dalam hidupnya jauh sebelum mereka bertemu.
Yang lebih mengganggunya, ia tidak tahu bagian mana dari dirinya yang sebenarnya tiba di Paviliun Teduh.
Pagi itu, Andhika menemukan Kelik tidur di dalam keranjang roti sambil memeluk satu bungkus kopi.
Ia mengangkat musang itu dari tengkuk.
Kelik membuka sebelah mata.
“Kalau kau ingin bertanya, letakkan aku dengan hormat.”
“Aku ingin penjelasan.”
“Semua orang begitu. Belum sarapan sudah cari penjelasan.”
“Apa maksud pedagang ketika mengatakan pedang harus menemukan dua ujung dari nama yang sama?”
Kelik menguap lebar.
“Satu kopi.”
Andhika menurunkannya ke meja dapur.
“Jawab dahulu.”
“Tidak.”
“Aku putra mahkota Awanara.”
“Dua kopi.”
“Kelik.”
“Tiga.”
Andhika menyipitkan mata.
Musang itu tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi kecil.
“Kalau gelarmu makin tinggi, jawabanku juga makin mahal.”
Raras masuk ke dapur sambil membawa sekeranjang sayuran.
“Jangan berikan dia kopi.”
“Aku membutuhkan informasi.”
“Informasinya tidak sebanding dengan kerusakan yang dia buat setelah tiga cangkir.”
Kelik berdiri dengan kedua kaki belakang.
“Itu fitnah. Aku hanya memindahkan dua pot bunga dan menyatakan diri sebagai menteri.”
“Kau mencoba menggigit jam dinding.”
“Jam itu menatapku.”
Andhika mengambil teko.
“Aku akan menanggung risikonya.”
“Kau mengatakan itu karena belum pernah melihatnya berlari di langit-langit.”
Andhika menuangkan kopi ke cangkir kecil.
Kelik meminumnya dalam beberapa tegukan. Setelah cangkir pertama, ekornya mulai bergerak lebih cepat.
“Cangkir kedua,” tuntutnya.
“Kau belum mengatakan apa pun.”
“Kopi pertama membuka kemampuan bicara. Kopi kedua membuka kesediaan bekerja sama.”
“Dan yang ketiga?”
“Kebijaksanaan.”
Raras mendengus. “Yang ketiga membuka bencana.”
Andhika menuangkan cangkir kedua.
Kelik meminumnya, lalu melompat ke atas meja.
“Selamat pagi, Yang Mulia Pemilik Setengah Bayangan.”
Andhika berhenti.
“Apa maksudmu?”
“Tiga kopi.”
Suara langkah datang dari lorong. Alika dan Jodi memasuki dapur. Alika masih mengenakan pakaian rumah dan membawa salinan foto dari artefak malam sebelumnya.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.
“Andhika sedang menyuap Kelik,” jawab Raras.
“Bukan menyuap,” kata Kelik. “Ini pembayaran konsultasi.”
Jodi mendekati teko. “Bukankah dua cangkir sudah cukup?”
Kelik menunjuk Andhika.
“Pangeran Setengah Jadi meminta jawaban penuh.”
Andhika menuangkan cangkir ketiga sebelum Raras sempat menghentikannya.
Kelik meminum kopi itu sampai habis.