Ketika Hujan Pulang Ke Langit

A.A.Pusung
Chapter #13

BAB 13 Surat Cinta yang Belum Ditulis

Sejak Kelik mengatakan separuh Nama Pilihan Andhika tersimpan dalam diri seseorang yang belum lahir, Alika memeriksa setiap sudut Paviliun, seolah-olah bangunan itu benar-benar sedang menunggu seseorang lahir dari dalamnya.

Ia memeriksa kamar ketiga belas.

Pintu tanpa nomor tidak muncul.

Ia memeriksa buku tamu.

Tidak ada nama baru.

Ia bahkan berdiri di depan lift mati selama hampir sepuluh menit, menunggu tombolnya menyala atau pintunya mengeluarkan bunyi aneh.

Lift itu tetap diam.

Paviliun Teduh selalu tampak paling tidak bersalah tepat setelah membuat semua orang ketakutan.

“Kalau kau menatap lift selama lima menit lagi, mungkin dia akan merasa diperhatikan dan membuka diri,” kata Jodi dari belakang meja resepsionis.

Alika berpaling. “Kenapa kamu masih di sini?”

“Aku sahabatmu.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku juga sedang mengunduh rekaman Pulau Arunika sebelum semua videonya dianggap palsu.”

Jodi mengangkat laptop. Di layar, puluhan video menampilkan pulau terapung yang sempat muncul di atas Tirakarta. Sebagian buram, sebagian terputus, dan sebagian besar sudah diberi musik dramatis oleh pengunggahnya.

“Orang-orang mulai membuat teori,” katanya.

“Teori apa?”

“Ada yang bilang pulau itu markas makhluk asing. Ada yang yakin pemerintah sedang menguji proyektor raksasa. Satu orang bilang itu tanda harga properti akan turun.”

“Yang terakhir mungkin benar.”

Jodi memperbesar salah satu video. Alika dan Andhika tampak berdiri di halaman Paviliun dengan tangan saling menggenggam.

Wajah mereka tidak terlihat jelas, tetapi postur tubuh Andhika cukup mudah dikenali.

“Aku harus menghapus yang ini,” kata Alika.

“Sudah diunggah ulang seribu kali.”

“Sekalian hapus internet.”

“Kita sudah pernah bahas aku nggak bisa begitu.”

Dari dapur terdengar suara Raras memarahi Kelik karena mencelupkan ekornya ke dalam gula. Andhika sedang beristirahat di kamar tujuh setelah lukanya kembali terbuka saat menguji pedang.

Alika seharusnya naik dan memeriksa perbannya.

Sejak percakapan mereka mengenai separuh nama, keberadaan Andhika terasa terlalu dekat dengan semua peringatan yang ditinggalkan Rukmini.

Jangan biarkan dirimu mencintai Andhika Pratama.

Perempuan yang akan membelah seorang raja.

Ia tersimpan dalam diri seseorang yang belum lahir.

Alika tidak menyukai kalimat-kalimat yang bisa ditafsirkan ke mana-mana. Kalimat seperti itu selalu terasa masuk akal setelah bencana terjadi.

Ia memutuskan memeriksa ruang kerja Rukmini sekali lagi.

Ruangan itu berada di belakang kamar pribadi neneknya. Rak-raknya penuh buku perawatan penginapan, catatan pembelian, resep, dan surat-surat yang sebagian besar tidak pernah dikirim.

Alika mulai dari meja.

Laci pertama berisi alat tulis.

Laci kedua berisi kuitansi.

Laci ketiga macet.

Ia menariknya lebih keras. Kayu bergeser, lalu sebuah amplop putih jatuh dari sisi belakang meja.

Amplop itu tidak berdebu.

Nama Alika tertulis di bagian depan.

Tulisan tangannya sendiri.

Alika berdiri diam.

Ia tahu bentuk setiap huruf yang dibuatnya. Cara garis huruf A sedikit miring. Cara ia selalu menulis huruf k terlalu tinggi. Kebiasaan menekan pena lebih kuat pada bagian akhir kata.

Tulisan itu miliknya.

Ia tidak pernah menulis amplop itu.

“Jodi,” panggilnya.

Langkah cepat terdengar di lorong. Jodi muncul sambil masih membawa laptop.

“Apa?”

Alika menunjukkan amplop.

Jodi membacanya.

“Ini tulisanmu?”

“Ya.”

“Kamu pernah menulis surat kepada diri sendiri?”

“Tidak.”

“Pernah menulis ketika tidur?”

“Juga tidak.”

Minat Jodi pada amplop itu terlalu besar untuk dipercaya.

“Boleh aku merekam saat kau membukanya?”

“Tidak.”

“Buat dokumentasi.”

“Tidak.”

“Untuk bukti kalau nanti—”

“Jodi.”

“Baik. Aku menyaksikan dengan mata telanjang seperti orang zaman dulu.”

Alika membuka amplop dengan pisau kertas.

Di dalamnya terdapat tiga lembar kertas berwarna krem. Tintanya biru gelap. Tulisan pada halaman pertama sama dengan tulisan tangannya.

Di sudut kanan atas tercantum tanggal.

Lihat selengkapnya