Andhika baru merasa benar-benar tinggal ketika orang-orang berhenti menanyakan alasan keberadaannya. Catatan di buku tamu ternyata tidak banyak mengubah apa-apa.
Pada minggu pertama, setiap kemunculannya di dapur masih membuat Alika berhenti bekerja.
Pada minggu kedua, perempuan itu hanya menunjuk piring kotor yang belum dicuci.
“Piringmu.”
“Nanti saja aku suruh seseorang”
“Tidak ada pelayan.”
“Di Awanara”
“Ini bukan Awanara.”
Andhika akhirnya mencuci piring.
Raras berdiri dekat situ. Ia tidak yakin Andhika bisa mencuci piring dengan benar kalau tidak diperhatikan. Jodi merekam lima detik pertama sebelum Alika mengancam membuang ponselnya ke sumur.
Sejak surat masa depan ditemukan, Alika bersikap lebih sibuk daripada biasanya.
Ia memperbaiki catatan tamu, memeriksa dokumen, membersihkan kamar, dan mencari kerusakan yang sebenarnya dapat menunggu. Setiap kali Andhika bertanya mengenai surat itu, Alika mengatakan mereka belum menemukan informasi baru.
Ia juga tidak lagi menatapnya lama.
Bukan hanya lima detik.
Kadang-kadang, bahkan satu detik pun terasa terlalu banyak.
Andhika mencoba menghormati jarak itu. Tetapi ia tidak dapat mengabaikan perasaan bahwa ada sesuatu dalam surat yang belum diberitahukan kepadanya.
Mendesak Alika hanya akan membuat perempuan itu menutup diri lebih rapat.
Karena itu, Andhika memilih melakukan hal yang tidak pernah ia bayangkan akan dilakukan seorang calon raja.
Ia memperbaiki atap.
“Jangan berdiri terlalu dekat tepi,” seru Alika dari halaman.
Andhika berada di atas genting dengan palu, beberapa lembar penutup baru, dan tali pengaman yang menurutnya sangat merendahkan.
“Aku pernah memanjat menara istana saat diserang.”
“Memangnya menara istana licin karena lumut?”
“Tidak.”
“Berarti dengarkan saya.”
Jodi berdiri di samping Alika sambil memegang tangga.
“Kalau dia jatuh, judul episodenya jelas.”
Alika menatapnya.
Jodi mengangkat kedua tangan. “Aku juga nggak mau dia jatuh. Tapi kalau sampai jatuh, ya aku siap.”
Andhika mengganti dua genting pecah di sisi timur. Ia bekerja lebih lambat dari biasanya karena luka di pinggangnya belum benar-benar pulih. Anehnya, berada di atas atap justru membuatnya tenang.
Dari sana, Tirakarta terlihat seperti lautan bangunan yang tidak pernah diam. Atap-atap rumah berhimpitan, kendaraan bergerak seperti barisan serangga, dan udara pelabuhan membawa bau garam sampai ke Paviliun.
Di Awanara, pemandangan dari menara istana selalu mengingatkannya pada jumlah orang yang harus ia lindungi.
Di Tirakarta, pemandangan dari tempat tinggi tidak meminta apa pun darinya.
Setelah atap selesai, Alika memeriksa hasilnya.
“Tidak buruk.”
Andhika menuruni tangga. “Itu pujian?”
“Itu penilaian kerja.”
“Ya... aku anggap itu pujian.”
Hari berikutnya, ia membantu di meja resepsionis.
Paviliun belum resmi dibuka kembali, tetapi beberapa warga datang karena penasaran setelah fenomena pulau terapung. Alika menolak menerima tamu menginap sampai sebagian kamar diperbaiki. Orang-orang tetap datang untuk bertanya.
Seorang perempuan muda masuk dan meminta izin melihat lift.
“Tidak boleh,” kata Andhika.
“Cuma foto.”
“Tidak.”
“Mas pegawai baru?”
Andhika memandang Alika yang sedang mencatat sesuatu di belakang meja.
“Aku yang jagain tempat ini.”
Perempuan itu tersenyum. “Oh, satpam?”
Alika menundukkan kepala agar tidak terlihat tertawa.
Andhika mempertahankan wajah tenang.
“Aku putra—”
Alika menginjak kakinya dari balik meja.
“Pegawai sementara,” katanya.
Perempuan itu pergi setelah membeli kartu pos Paviliun yang sudah tidak dicetak lagi sejak sepuluh tahun lalu.
Andhika menoleh kepada Alika.
“Kau merendahkan kedudukanku lagi.”
“Kalau saya bilang kamu putra mahkota, dia akan meminta foto.”