Bayangan Andhika masih ada keesokan paginya.
Alika memeriksanya di bawah cahaya matahari, lampu dapur, lampu kamar, bahkan senter ponsel Jodi. Bayangan itu tetap muncul di setiap permukaan, meski sesekali bergerak sepersekian detik setelah tubuh Andhika bergerak.
“Coba angkat tangan kanan,” kata Jodi.
Andhika mengangkat tangan.
Bayangannya menirukan gerakan itu.
“Sekarang kiri.”
Andhika menuruti.
“Sekarang lompat.”
Andhika memandangnya.
“Buat ngetes.”
“Lukaku belum pulih.”
“Iya, jangan lompat.”
Alika berjongkok di dekat lantai lobi, mengamati tepi bayangan Andhika. Bentuknya cukup jelas, tetapi di bagian dada, ada garis tipis yang membelah bayangan gelap itu menjadi dua lapisan.
Ia tidak menyebutkannya.
Sejak menemukan halaman terakhir surat masa depan, Alika semakin berhati-hati terhadap informasi. Ia tahu menyimpan informasi seperti ini bertentangan dengan aturan kerja sama mereka, tetapi perintah untuk membunuh Andhika bukan sesuatu yang bisa ia berikan begitu saja kepada orang yang akan dibunuh.
Andhika berdiri tepat di belakangnya.
“Apa yang kau lihat?”
“Bayangan.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa bertanya?”
“Karena kau mengerutkan dahi.”
Alika berdiri.
“Bayanganmu belum sepenuhnya normal.”
“Itu bukan informasi baru.”
“Setidaknya sekarang dunia mengakui kamu ada.”
Andhika memandangi bentuk gelap di lantai.
“Mungkin dunia ini cuma mengakui separuh aku.”
Sebelum Alika menjawab, suara gemuruh datang dari luar. Bunyi itu terlalu berat dan panjang untuk disebut petir, seperti gunung yang sedang bergeser melewati langit.
Jendela-jendela Paviliun bergetar. Beberapa kunci kamar berdenting di papan belakang resepsionis.
Raras keluar dari dapur dengan wajah tegang.
“Semua menjauh dari jendela.”
Jodi justru mengambil ponselnya.
“Kita belum tahu apa yang terjadi.”
“Justru karena itu,” kata Raras.
Gemuruh kedua terdengar.
Lantai Paviliun miring ke kiri selama beberapa detik, lalu kembali lurus. Vas bunga jatuh dari meja, tetapi Andhika menangkapnya sebelum pecah.
Alika berlari menuju pintu depan.
Raras mencoba menghentikannya.
“Alika.”
“Kalau bangunannya bergeser, saya harus tahu bagian mana yang rusak.”
“Bukan Paviliun yang bergeser.”
Alika membuka pintu.
Jalan di depan penginapan telah hilang.
Sebagai gantinya, tangga batu putih membentang dari pagar Paviliun menuju deretan pertokoan di seberang. Tangga itu menembus aspal, trotoar, bahkan sebuah mobil yang kini tampak setengah tertanam dalam bebatuan.
Pepohonan asing tumbuh di antara tiang listrik. Daunnya berwarna perak pucat dan mengeluarkan bunyi seperti lonceng kecil saat tertiup angin.
Di atas gedung-gedung Tirakarta, sebagian Pulau Arunika menggantung terlalu rendah.
Pulau itu bukan lagi bayangan di langit.
Pulau itu telah turun ke kota.
Jalan-jalan batu dari Awanara bertumpuk dengan jalan modern. Dinding sebuah bangunan beratap biru menembus pusat perbelanjaan. Aliran air jernih naik di sisi gedung perkantoran, lalu berbelok menuju pulau.
Orang-orang berhenti di jalan.
Sebagian berteriak.
Sebagian lain merekam.
Seorang pengendara motor mengangkat ponsel sambil mengumpat karena jalan yang biasa dilaluinya berubah menjadi tangga.
Jodi berdiri di samping Alika.
“Ini lebih sulit dijelaskan sebagai proyektor.”
“Jangan bilang apa pun.”
Tiga orang mendekati pagar sambil membawa kamera.
“Pak, Bu, ini bagian festival apa?” tanya salah seorang.
Jodi segera maju.
“Benar. Festival budaya lintas ruang.”
Alika menoleh tajam.
“Lintas ruang?” bisiknya.
Jodi tetap tersenyum kepada warga.
“Konsepnya eksperimental. Mohon jangan menyentuh tanaman, tangga, atau bangunan yang muncul mendadak. Properti sangat mahal.”
“Ini acara pemerintah?”