Setelah Maharani Malika mengakhiri sambungan cermin air, tidak ada seorang pun di ruang makan yang langsung berbicara.
Permukaan air dalam baskom kembali tenang. Bayangan istana Awanara lenyap, menyisakan pantulan lampu dan lima wajah yang masih memikirkan kalimat terakhir Malika.
Kalimat terakhir Malika masih tertinggal di kepala mereka: kutukan itu akan membelah Andhika menjadi dua.
Kelik menjadi orang pertama yang bergerak.
Ia menjulurkan kaki ke arah mangkuk kopi.
Raras menarik mangkuk itu menjauh.
“Bukan waktunya.”
“Justru saat keadaan buruk, kopi paling dibutuhkan.”
“Diam.”
Kelik turun dari kursi sambil menggerutu mengenai orang-orang yang tidak memahami kebutuhan medis seekor musang.
Pandangan Jodi berpindah dari Alika ke Andhika.
“Aku punya usul.”
Alika langsung menggeleng. “Tidak.”
“Kau belum mendengarnya.”
“Setelah aturan lemari dan festival lintas ruang, saya berhak menolak lebih awal.”
“Dengar dulu. Kali ini masuk akal.”
“Nah, itu yang membuat saya khawatir.”
Andhika masih berdiri di samping Alika. Sentuhan perempuan itu pada lengannya sudah terlepas, tetapi rasa hangatnya belum sepenuhnya hilang.
Jodi menarik napas.
“Kalian menjaga jarak.”
Ruangan kembali sunyi.
Alika menyilangkan tangan. “Itu sudah ada dalam aturan.”
“Tidak cukup. Kalian terus melanggar.”
“Kapan?”
Jodi mulai menghitung dengan jari.
“Pegangan tangan yang membuat pulau muncul. Penyamaran sebagai pasangan. Tatapan di balkon. Bicara berdua malam-malam. Memasak, memperbaiki atap, dan sekarang berdiri melawan ibu kerajaan sambil saling menyentuh.”
Andhika mengerutkan dahi.
“Kami tidak memasak berdua.”
“Ya, bukan itu yang penting.”
Raras menutup baskom cermin air dengan kain.
“Jodi benar.”
Alika berbalik tajam. “Anda mendukungnya?”
“Sayangnya.”
Raras menghadap Andhika.
“Kalau ucapan Maharani benar, kalian tidak boleh membiarkan perasaan berkembang sampai kita memahami cara menghentikan kutukan.”
Andhika mencari reaksi Alika.
Perempuan itu langsung memalingkan wajah.
“Baik,” katanya. “Kita menjaga jarak.”
Kedengarannya sederhana.
Menjalankannya di Paviliun Teduh ternyata jauh dari sederhana.
Jodi menyusun jadwal agar Alika dan Andhika tidak pernah berada dalam satu ruangan tanpa orang ketiga. Jadwal itu ditempel di belakang meja resepsionis dengan pita perekat.
Pukul tujuh sampai sembilan pagi, Andhika membantu Raras di dapur sementara Alika memeriksa kamar.
Pukul sembilan sampai sebelas, Alika mengurus resepsionis sementara Andhika berada di halaman.
Pukul sebelas sampai satu siang, Jodi bertugas mengawasi mereka.
Setelah makan siang, mereka hanya boleh berbicara melalui pintu yang terbuka.
“Ini bukan jadwal,” kata Alika setelah membacanya. “Ini pengaturan tahanan.”
“Aku cuma mencegah bencana romantis.”
Andhika membaca bagian bawah.
“Kenapa tertulis dilarang bertatapan saat hujan?”
“Suasananya mendukung.”
“Itu bukan dasar yang ilmiah.”
“Ya, aku punya pengalaman soal cerita.”
“Cerita bukan hukum.”
Jodi mengangkat alis. “Kutukan keluarga kalian juga terdengar seperti cerita sampai seorang ratu muncul dari mangkuk.”
Alika mengambil pena dan mencoret tiga aturan yang dianggapnya terlalu berlebihan. Jodi menuliskannya kembali dengan tinta merah.
Pada hari pertama, jadwal itu masih berjalan.
Pada hari kedua, kamar lima mengalami kebocoran. Alika membutuhkan seseorang untuk memegangi tangga, sementara Raras sedang memasak dan Jodi pergi membeli kabel mikrofon.
Andhika memegang tangga.
“Jangan melihat ke atas,” kata Alika.
“Aku memastikan kau tidak jatuh.”
“Kamu bisa memastikan dari samping.”
“Aku berdiri di bawah tangga.”
Alika memperbaiki bagian langit-langit yang lembap. Ketika papan kecil terlepas, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Andhika langsung menangkap pinggangnya.