Ketika Hujan Pulang Ke Langit

A.A.Pusung
Chapter #20

BAB 20 Ciuman di Pulau yang Hampir Hilang

Jalan menuju Pulau Teduh terbuka ketika hujan pertama menyentuh halaman Paviliun.

Tetes-tetes air jatuh seperti biasa selama beberapa detik. Kemudian salah satunya berhenti di atas batu, bergetar, lalu bergerak kembali menuju langit.

Tetes lain menyusul.

Dalam waktu kurang dari satu menit, seluruh hujan naik.

Pintu lift yang sudah lama mati terbuka dengan suara logam yang panjang.

Di baliknya tidak ada ruang sempit atau kabel tua. Hanya jalan batu yang melayang di tengah kabut, mengarah ke pulau yang nyaris kehilangan warna.

Andhika berdiri di depan pintu dengan pedang patah terhunus.

“Pulau Teduh,” katanya.

Alika melihat daratan di kejauhan.

Pohon-pohon di sana hanya tampak seperti bayangan. Beberapa bangunan hanya tersisa garis luar. Air di tepi pulau terangkat ke langit dalam aliran tipis, seolah pulau itu sedang kehilangan semua yang membuatnya nyata.

Raras menyiapkan gulungan benang putih, tujuh paku logam, dan buku tamu lama.

“Paviliun harus diikat kembali ke pulau,” katanya. “Kalau simpulnya bertahan, jalur menuju Awanara bisa terbuka cukup lama untuk membawa kembali hari terakhir.”

“Kalau tidak bertahan?” tanya Alika.

Raras tidak memberi jawaban.

Kelik muncul sambil membawa termos kopi yang menggantung di lehernya pada seutas tali.

Andhika memandangnya.

“Kau ikut?”

“Aku tahu jalan.”

“Kau juga tahu cara mengikat pulau?”

“Tidak. Tapi seseorang harus memastikan kalian tidak bikin kebodohan tanpa saksi.”

Jodi berdiri di belakang mereka sambil membawa ransel.

“Aku ikut juga.”

Alika menggeleng. “Kamu tinggal.”

“Kenapa Kelik boleh?”

“Kelik mengenal Pasar Antara dan jalur.”

“Aku punya mikrofon. Terus kenapa?”

“Pulau tidak akan diselamatkan dengan wawancara.”

“Belum tentu.”

Raras menyerahkan buku tamu kepada Jodi.

“Jaga Paviliun. Kalau nama mereka mulai hilang dari halaman, panggil keras-keras.”

Jodi menerima buku itu dengan enggan.

Ia mencari mata Alika.

“Jangan terlalu lama.”

Alika mengangguk.

Ia, Andhika, Raras, dan Kelik melangkah ke dalam lift.

Begitu melewati pintu, suara Tirakarta lenyap.

Udara Pulau Teduh dingin dan berbau tanah setelah hujan. Jalan batu di bawah kaki mereka tidak sepenuhnya padat. Sesekali sepatu Alika menembus permukaan beberapa milimeter, lalu jalan itu mengingat bentuknya kembali.

Di kejauhan, orang-orang berkumpul di depan bangunan yang menyerupai versi lama Paviliun Teduh.

Mereka mengenakan pakaian Awanara, tetapi warnanya memudar. Sebagian wajah mereka tidak jelas.

Seorang perempuan tua mendekat.

“Andhika Pratama,” katanya.

Andhika berhenti.

“Bagaimana Anda mengenalku?”

Perempuan itu tersenyum sedih.

“Aku tidak tahu.”

Ia kemudian menghadap Alika.

“Penjaga pulang.”

“Saya bukan penjaga.”

“Orang yang menyangkal gelar biasanya tetap datang membawa kunci.”

Alika tidak sempat bertanya lebih jauh. Tubuh perempuan itu berkedip, seolah cahaya menembusnya.

Raras menunjuk pusat pulau.

“Kita harus sampai ke Simpul Teduh sebelum nama-nama mereka lepas.”

Mereka berlari.

Pulau itu berubah di sekitar mereka. Jalan yang awalnya lurus mendadak membelok. Bangunan hilang saat tidak dipandang. Suara orang-orang memanggil nama keluarga mereka terdengar dari segala arah, tetapi sebagian panggilan berhenti di tengah kata.

Andhika memimpin dengan pedang patah. Setiap kali bilah diarahkan ke depan, jalan di depannya menjadi lebih padat.

Mereka tiba di lapangan luas.

Di tengahnya berdiri pohon tua dengan batang terbelah dua. Akar-akarnya keluar dari tanah, melingkari sebuah cekungan batu yang bentuknya sama dengan fondasi Paviliun Teduh.

“Di sinilah penginapan berdiri sebelum terpisah,” kata Raras.

Ia memberikan gulungan benang kepada Alika.

“Benang ini membawa Nama Ingatan Paviliun. Ikatkan pada tujuh akar utama.”

Andhika menancapkan paku pertama.

Tanah bergetar.

Alika mengikat benang pada akar. Saat simpul pertama terbentuk, bayangan Paviliun muncul sebentar di atas cekungan.

Mereka bergerak cepat.

Paku kedua.

Simpul kedua.

Paku ketiga.

Pada simpul keempat, hujan di atas pulau mulai bergerak lebih cepat menuju langit.

Orang-orang di sekitar lapangan berteriak.

Seorang anak laki-laki memegang tangan ibunya.

“Ibu, siapa namaku?”

Perempuan itu berlutut di hadapannya.

Lihat selengkapnya