"Pintu ini sudah tidak ada gunanya, kenapa mereka belum menguncinya?!"
Malam yang semula tenang di rumah Bumantara tergerai oleh kegarangan Relia.
Jisela membuang napas berat sembari mengunci pintu dari dalam, daripada mengutamakan teriak-teriak seperti Relia.
"Kalau kau sangat harus menemuinya, aku mau ikut."
"Kau sudah mengatasi yang di perusahaan, Alé urusanku. Dia bermasalah denganku," tegasnya tak ragu.
Jisela tak lagi membantah. Meski tiada senyuman, wajahnya terlihat lembut beda dari biasanya, mungkin lebih tepat disebut kehabisan tenaga.
Dari sudut ruang tamu, Kiara tersenyum tenang melihat kedua kakaknya bicara tanpa hawa marah atau benci pada satu sama lain. Meski rasanya mereka tetap dua orang dengan pikiran saling bertabrakan, Kiara dapat merasakan kepedulian dalam nada kesal Jisela. Ia sungguh berharap kedua kakaknya dapat bersandar pada satu sama lain.
"Kakak!" Kira datang dengan teriakan heboh, mendahului Kiara yang pertama menyadari kepulangan mereka.
Namun, bahkan antusiasme dan senyuman Kira, atau mata penuh harap Kiara, tak membuat Relia merelakan kemasaman menghilang dari wajahnya.
Kiara bertanya-tanya, tentang perasaan Relia saat ini, apa semua lancar bagi Jisela seharian ini, juga apakah pulangnya mereka secara bersamaan merupakan tanda mereka berbaikan? Namun, itu semua terdahului Kira yang paling tertarik pada setelan pakaian kakak tertua mereka.
"Kenapa Kakak pakai ini? Dapat dari mana?"
Kiara mengikuti arah pandang Kira yang memindai penuh hasrat untuk memiliki baju koki kakak mereka.
Kelihatannya, karena melihat kekaguman di mata Kira, kakak sulungnya dengan telaten menceritakan itu didapatkan dari Delvin, dan Kira bisa memilikinya kalau mau.
Memperhatikan senyum Relia tertuju pada Jisela, Kiara turut tersenyum, sepertinya semua berakhir dengan baik, meski bukan semuanya, hanya hubungan Jisela dan Relia—hubungan mereka semua—yang rasanya menghangat, tapi itu sudah terasa semuanya.
"Aku dan Kiara sengaja menunggu kakak pulang buat makan malam. Akan kusiapkan mejanya."
Meski telah selesai berkata demikian, senyum Kira justru binasa, tak jadi beranjak, menatap lamat-lamat Kiara yang tetap diam di sana.
"Kau akan diam saja?!" Sesaat kemudian, keketusannya menghilang. Memberikan sesimpul senyum manis ketika menatap kedua kakaknya.
Kira kadang bingung, apa saja isi kepala Kiara? Tidakkah dia bisa melihat wajah resah kakak tertua mereka yang lirikannya maju mundur mau memandang kakak kedua?
Kira dan Kiara pergi bersama. Relia pun beranjak, merasa tak ada lagi yang perlu dilakukan di sana.
Jisela begitu ragu dan penuh tekad di saat yang sama. Bibirnya terlipat masuk dengan kaki terpaku. "Relia ...." Panggilan itu seketika menghentikan Relia. "Di situ saja, jangan hadap sini," tambahnya cepat.
Relia menuruti. Selarik senyumnya terukir samar. "Akhirnya kau ingat namaku."
Mendengar itu saja cukup membuat air mata Jisela mulai meronta. Jarak di antara mereka terasa lebih buruk dari dua orang asing.
"Aku tidak akan bisa mengatakannya kalau besok-besok. Ini hanya bisa kukatakan sekarang. Kuharap setelah ini kau langsung melupakan semua yang akan kukatakan."
Jisela menelan ludah, membasahi bibirnya yang terasa kering. "Aku kasar dan salah menuduhmu. Aku ingin minta maaf soal itu. Ini bukan pembelaan—meski kau tidak bertanya, aku hanya ingin menjelaskan." Ia semakin tak bernyali mengalihkan mata dari lantai tempat mereka berjarak.
"Aku menyuruh Aksam mengikutimu, karena benar aku tidak mempercayaimu. Tapi, semalam aku mencoba percaya padamu dan menyuruh Aksam pulang, meski dia bilang kau makan malam dengan pria itu."
Seluruh tubuh Jisela melemas. "Rasanya seperti membohongi diriku sendiri. Kecurigaanku padamu tak tertahankan." Ia sendiri merasa tak tahan dengan sikapnya.
Peradukan segala perasaan dan perkataan yang ingin dia ungkapkan serasa berkumpul menyesak di tenggorokan. "Aku takut terjadi hal yang tidak akan bisa kuatasi—" Ucapannya tersendat. "Kalau hal buruk sampai terjadi, aku tidak akan bisa memberi kepuasan dan keamanan yang seharusnya kalian dapatkan, seperti yang akan Papa dan Mama berikan."
Bibir Relia merapat.
Selama apa pun telah hidup bersama, rasanya mustahil dapat mengenal seseorang sepenuhnya.
Ia berbalik. Matanya yang memburam dan basah menemukan Jisela berganti memunggunginya.
Ia tak tahu apa saja yang dilalui Jisela seharian ini, sementara dia baru melihat siaran pers yang kakaknya lakukan saat Jisela berganti pakaian di VinBucks'.
"Hari ini pasti sangat berat bagimu." Relia melihat Jisela menunduk. Kakaknya pasti sedang menangis, sehingga ia tetap di belakangnya, dengan menggenggam tangannya. "Biarkan aku membantumu."