Ketika Kami Kehilangan Dua Bintang

Alfania Vika
Chapter #31

31. Luka dan Kebahagiaan yang Mengikat

[Delapan Tahun Sebelumnya ....]

Sesuatu yang melelahkan, hadir di pesta ulang tahun pernikahan kakek-neneknya hanya dengan duduk diam memperhatikan orang-orang. Namun, lebih melelahkan lagi ketika harus mengikuti panggilan ayahnya untuk diperkenalkan pada seseorang.

"Jisela ...."

Jisela sibuk memandangi satu titik meresahkan berjarak lima meja darinya, sehingga ketika menoleh sebab mendengar panggilan itu, neneknya sudah duduk di meja yang sama.

Senyumnya menyapa sebentar, tanpa ada yang dia katakan.

"Ada apa? Kenapa melihat ibumu terus?"

Jisela menaruh gelas, bibirnya sedikit cemberut. "Melihat banyak yang mencuri-curi kesempatan bicara dengan Mama dan ingin ditatap olehnya, aku percaya zodiak Mama memang Leo."

Jisela merasa salah bicara dan mengatakan hal konyol mendengar tawa terkendali neneknya.

"Oma tidak paham tentang zodiak-zodiak, tapi menurut Oma, semua orang akan mendapatkan apa yang mereka perjuangkan."

Jisela tertarik memandang sang nenek, merasa menerima informasi yang masih ada lanjutannya.

"Ibumu tidak tiba-tiba menjadi secantik dan banyak dikagumi seperti sekarang. Ada masanya ketika bahkan ayahmu berpaling darinya, mungkin tidak tahan lama-lama menatapnya."

Nyeri yang tak berwujud, namun terasa nyata. Kalimat itu sedikit kelewatan, dan kalau memang benar pernah demikian keadaannya, itu sikap yang dirinya sendiri tidak akan bisa menerima.

"Oma rasa kau sudah cukup dewasa untuk memahami, jadi Oma ingin berbagi."

"Ada masanya dulu ibumu adalah seorang istri yang sangat setia. Dia seolah menyerahkan keseluruhan dirinya hanya untuk ayahmu. Meski cinta belum tumbuh dalam hati ibumu, dia memahami pernikahan dan wajibnya kesetiaan."

Cerita itu akan memiliki kelanjutan yang sulit didengar, dapat dipastikan.

"Mungkin saat itu ibumu masih terlalu polos. Dia memfokuskan diri untuk mengurus rumah dan melayani ayahmu, sehingga kurang memperhatikan dirinya sendiri."

Hatinya ingin tertawa dalam balutan kecewa, karena mungkin dapat menebak adegan berikutnya.

"Papa ...."

Neneknya mengangguk. Jisela mengalihkan perhatian pada lubang gelasnya, berusaha membelokkan pikiran dan perasaannya dengan minum agar tidak menangis.

Namun, bahkan neneknya yang mengetahui semua itu diam saja. Rasanya, cerita rumah tangga ayah-ibunya seperti gosip yang dinikmati seluruh keluarga.

"Bukankah pernikahannya terjadi karena Papa mencintai Mama?"

Lihat selengkapnya