Relia menghadap meja makan dengan helaan napas tertahan di dada. Jisela kembali menghilang. Tanpa sapaan apalagi penjelasan. Semalam pun, perbincangannya dengan Jisela berlangsung teramat singkat. Hanya ia yang mengingatkan minum obat, lalu dibalas orang itu dengan mengiyakan serta tak lupa menambahkan bahwa semua baik-baik saja—sebuah jawaban tidak transparan, tetapi sama sekali tak mengherankan keluar dari mulut Jisela.
"Selamat siang rekan-rekan media. Terima kasih atas kehadiran Anda sekalian. Terkait dengan isu yang berkembang sejak pagi ini mengenai Nona Relia Bumantara, manajer HRD Glicefood Company, kami merasa perlu memberikan pernyataan resmi demi menghindari kesimpangsiuran informasi."
Relia berdecak melempar tatapan ke seberang meja. "Matikan itu!" sentaknya pada Kira dan Kiara. Kedua adiknya memutar konferensi pers itu berulang-ulang seakan sengaja mengungkit kegilaannya di samping kehebatan Jisela. Kiara mungkin tak bermaksud begitu, tapi Kira.
"Apa yang terjadi bukanlah skandal perselingkuhan dunia hiburan. Ini adalah bentuk serangan terorganisir terhadap manajemen internal dan pimpinan Glicefood Company."
Mata Kira tak kalah tajam menyerang kakaknya. Ia justru menaikkan volume ponselnya.
"Baru-baru ini, kami dan pihak Tuan Alexander sedang melakukan diskusi terkait rencana kerja sama sebagai Brand Ambassador Glicefood Company. Namun, berdasarkan evaluasi akhir dan prinsip tata kelola tertinggi Glicefood Company, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan penandatanganan kerja sama tersebut, karena tidak memenuhi standar kualifikasi internal. Sehingga kerja sama tersebut tidak mencapai sepakat, yang mungkin memicu kekecewaan, hingga timbul pernyataan tidak sesuai fakta dari calon mitra kami, yaitu Tuan Alexander Purnama Nusantara, ketika menanggapi video yang sedang beredar mengenai hubungannya dengan Manajer HRD."
Kiara geleng-geleng. Kini fokus pada piringnya, mulai sadar tujuan si Buaya Betina memutar video itu memang untuk mengusili kakak mereka.
"Meski demikian, Glicefood Company tidak akan memberikan ruang sekecil apa pun bagi strategi murahan yang bertujuan menjatuhkan integritas perusahaan. Saat ini tim hukum bersama rekanan media kami sedang melakukan investigasi mendalam untuk menemukan akun pertama yang menyebarkan—"
Kira menjeda video siaran pers itu, merasa sedikit puas melihat kekesalan kakaknya. "Menurut Kakak, Kak Jisel mau dijodohkan? Sekarang giliran Kakak membantu Kak Jisel."
"Dijodohkan?"
"Opa bilang di group chat, Kakak belum lihat? Nanti malam kita makan sama calon dan keluarganya," tambah Kira memaparkan.
Meski Relia sedikit yakin Jisela bahkan tak pernah memikirkan pernikahan—bahkan dalam mimpi—ia tetap berucap, "Siapa tahu Jisela memang ingin menikah. Dia bisa menolak kalau memang tidak mau."
"Kalau memang semudah itu menentang Opa ...." Kedua bahu Kira terangkat dengan bibir mencebik. "Dona pasti dibuat setelah pernikahan, bukan sebelum."
Relia mengangkat gelas kosong di sampingnya, hendak melemparnya pada Kira.
"Benar, kan?"
Relia sendiri ragu Jisela akan secara jelas mengungkapkan keinginannya. Sejauh ini, melarikan diri selalu jadi senjata utama Jisela, ketika menyangkut masalah sendiri.
"Kak ...." Kiara menanti hingga perhatian kakaknya berpusat padanya. "Bagaimana kalau Kak Jisela tidak mau tapi Opa tetap memaksa?"
Kelopak mata Relia menyipit memandang ruang hampa di sebelah wajah Kiara. "Kalau jadi dia aku tidak akan datang." Jemarinya semakin kuat menggenggam sendok. "Biarkan saja nama keluarga kita jelek. Salah siapa ngeyel. Dia sudah bilang tidak mau menikah saat kita makan malam di sana."
"Seharusnya memang Kakak saja yang dijodohkan. Biar Opa trauma menjodohkan orang sembarangan."
Relia menutup obrolan itu dengan meminta mereka cepat menghabiskan sarapan, sehingga ia dapat segera mengantar keduanya ke rumah Ted.
Selama perjalanan menuju kantor hingga mobilnya berhenti di parkiran, seusai mengantar Kira dan Kiara, Relia masih merenungkan alasan profesional untuk menemui Jisela, tanpa terkesan terlalu menggebu ingin bicara.
Namun, ketika kakinya menapak ke lantai semen area parkir, hembusan rumor itu rasanya semakin jelas menghampar—menggerayangi seluruh wajahnya.
Rumor perselingkuhan itu memang tidak benar, bahkan Jisela telah memberikan pernyataan di depan media demi meluruskan. Namun, pemikiran dan pendapat orang adalah hal yang tak sepenuhnya mampu siapa pun kendalikan. Orang-orang kadang menilai terlalu jelas melalui mata mereka, meski belum tentu penilaian itu benar.
Namun, mungkin masalahnya adalah pikirannya sendiri. Sebab, entah orang-orang kantor menatapnya atau tidak, dua jenis sikap mereka akan tetap terasa salah. Ia akan merasa mata mereka menilai buruk ketika menatap, lalu beranggapan hati mereka yang tengah menghina habis-habisan sementara pura-pura tak melihat keberadaannya.
Kedua anggapannya bisa saja salah, mungkin saja mereka tengah mengasihaninya dalam hati, atau kemungkinan lainnya. Terlalu banyak kemungkinan, yang mungkin tak satu pun benar, atau pun salah.
Relia menghempas kecemasan itu—ia mencoba—dengan melangkah semakin cepat.
Lagi pula, apa pun yang orang lain pikirkan, ia tahu itu bukan kebenaran sesungguhnya, bukan dirinya seutuhnya. Mustahil, juga upaya sia-sia berusaha membuat orang lain sepenuhnya memahami dirinya, ketika ia sendiri tahu bahkan sulit memahami diri sendiri. Mengapa juga orang lain harus susah payah memahaminya?
Tetap saja, kakinya melambat ketika melihat dua petugas keamanan yang cukup berjarak di ujung sana. Dua pria itu sedang mengobrol. Relia mengambil langkah sepelan mungkin—mengendap-endap—mendekat tanpa suara. Ia hanya ingin tahu, mungkin mereka tengah menjadikan dirinya sebagai topik obrolan.