Yanti baru saja pulang sekolah.
Langkahnya ringan—atau setidaknya ia berusaha membuatnya terlihat ringan. Seragam putih abu-abu menempel di tubuhnya yang kurus, tas ransel menggantung di satu bahu. Matahari sore masih tinggi, menyinari halaman rumah kecil itu dengan cahaya keemasan yang menipu, seolah dinding yang retak dan cat yang memudar hanyalah bagian dari potret keluarga yang utuh.
Ia duduk di teras, meletakkan tas, lalu melepas sepatu pelan-pelan. Tali sepatu baru saja terlepas ketika suara itu datang.
Prangg.
Sesuatu dibanting dari dalam rumah. Suaranya keras, kasar, menghantam dinding-dinding sempit yang sudah terlalu sering menjadi saksi. Yanti terlonjak. Jantungnya seperti ditarik mendadak, lalu dijatuhkan kembali ke perutnya yang terasa kosong.
“Aku capek!” suara ayahnya melengking, parau oleh emosi.
“Pulang ke rumah cuma dengar keluhan kamu terus!”
Yanti menunduk. Tatapannya jatuh ke lantai teras yang retak. Tangannya menggantung di udara, lupa apa yang sedang ia lakukan. Ia tidak perlu melihat untuk tahu seperti apa wajah ayahnya sekarang. Nada itu sudah terlalu lama tinggal di telinganya—terlalu sering.
“Udah kubilang,” lanjut suara itu, lebih rendah namun jauh lebih mengancam, “jangan percaya orang. Harusnya kamu itu cuma percaya sama suamimu!”
Yanti menelan ludah. Tubuhnya menegang, refleks yang terbentuk dari tahun-tahun yang sama. Ia sudah hafal betul urutannya. Ini bukan pertengkaran pertama, bukan pula yang terburuk—hanya pengulangan dari luka yang sama.
Setelah ini, suara akan mereda sebentar.
Lalu pintu akan dibuka dengan kasar.