Ketika Orang Dewasa Memilih Pergi

Linda Er
Chapter #2

Meja Makan Tanpa Ayah

Malam itu, makan malam terasa lebih sunyi dari biasanya.


Di atas meja kayu yang permukaannya dipenuhi goresan usia, hanya ada dua piring. Satu di depan Yanti. Satu lagi di depan ibunya. Kursi ayah dibiarkan kosong, sedikit terdorong ke belakang, seolah sengaja dijauhkan dari percakapan yang tak pernah ada. Tidak ada yang bertanya ke mana ayah pergi. Tidak ada yang menunggu suara pintu dibuka.


Ayah tidak pulang sejak sore.


Lampu ruang makan menyala temaram, menggantung rendah, memantulkan bayangan mereka berdua ke dinding. Bayangan itu tampak lebih tua dari usia mereka yang sebenarnya. Yanti makan perlahan, hampir tanpa rasa. Setiap suapan terasa berat, seolah nasi di piringnya tidak pernah berkurang.


Di tengah keheningan, bunyi sendok yang menyentuh piring terdengar terlalu nyaring. Denting kecil itu memantul di telinganya, mempertegas betapa hampa rumah mereka malam ini.


Ibunya duduk di seberang, menatap piring yang sama sekali belum disentuh. Wajahnya pucat. Di bawah cahaya lampu, lingkar gelap di bawah matanya tampak jelas—seperti lelah yang sudah lama menetap dan tak pernah benar-benar pergi.


Beberapa menit berlalu tanpa kata. Hanya suara kipas angin tua yang berderit pelan, berputar tanpa tujuan.


Lalu ibu berbicara.


Suaranya sangat pelan, kering—nyaris seperti gumaman.


“Ayahmu selingkuh lagi.”


Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa amarah. Tanpa tangis. Seperti menyebutkan cuaca, atau memberi tahu jam berapa sekarang.

Lihat selengkapnya