Yanti masuk ke kamarnya dan menutup pintu perlahan, nyaris tanpa suara. Seolah pintu itu bukan hanya memisahkannya dari ruang lain, melainkan juga dari percakapan yang terlalu berat untuk terus ia dengar. Ia tidak mengunci pintu—di rumah ini, pintu yang terkunci sering kali dianggap sebagai bentuk perlawanan, sesuatu yang bisa memicu badai baru.
Di atas tempat tidur, boneka beruang yang sudah usang menatap ke arahnya. Bulu cokelatnya menipis, salah satu matanya sedikit miring. Boneka itu telah menemaninya sejak kecil, sejak masa ketika tidur masih terasa aman. Kini, tatapan kosongnya justru membuat Yanti tidak nyaman, seolah benda mati itu tahu apa yang sedang berputar di kepalanya.
Ia memalingkan wajah.
Bahkan boneka pun terasa seperti sedang menghakimi.
Dengan langkah lunglai, Yanti berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di pinggirnya. Kasur mengeluarkan bunyi pelan saat menahan berat tubuhnya. Kakinya menggantung, tidak sepenuhnya menyentuh lantai.
Empat kali.
Angka itu kembali berdenyut di kepalanya, seperti luka lama yang baru saja dikupas. Yanti menghela napas berat, berusaha meredakan sesak di dadanya. Ia memejamkan mata—dan ingatan yang selama ini ia kubur rapat mulai merayap ke permukaan.
Ingatan itu datang tanpa diminta.
Sebelum mereka pindah ke rumah ini, lima tahun lalu, malam-malam tidak pernah benar-benar tenang. Rumah lama mereka memang sedikit lebih luas, namun udaranya selalu panas oleh kecurigaan. Di balik dinding kamarnya yang tipis, Yanti sering terbangun oleh bisik-bisik tajam orang tuanya di tengah malam. Bukan bisik mesra, melainkan suara tertahan, penuh tekanan, yang selalu terhenti mendadak ketika ia lewat.