Ketika Sulung Perempuan Memikul Banyak Derita dan Berakhir Menjadi Pembunuh

Autami Anita
Chapter #1

Deru Napas Terakhir Djatmiko di Tangan Laela

"Laela... bajingan kamu... Laela...."

Suara Djatmiko pecah bersama semburan darah yang keluar dari mulutnya. Suaminya itu masih sempat-sempatnya mengumpat, menyumpah-serapah, meski terbata dan merintih. 

Pisau di tangan Laela telah menancap hingga ke ulu hatinya.

Mata lebam Laela berdenyut nyeri, memandang wajah laki-laki yang selama bertahun-tahun menjadi sumber mimpi buruknya.  Lalu, bibirnya yang pecah perlahan melengkung.

Senyum tipis. Getir. Nyaris gila.

"Sudah terlambat, Mas."

Dengan hentakan keras, ia mencabut pisau itu.

Darah hangat menyembur membasahi wajah dan bajunya. Bau anyir langsung memenuhi ruangan sempit unit rusun itu. Namun, Laela terkekeh.

Tawa yang tak pernah berani ia keluarkan selama bertahun-tahun.

Entah kekuatan dari mana, pisau itu kembali meluncur.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Lalu berkali-kali. 

Setiap tusukan seperti mewakili satu tamparan, satu tendangan, satu hinaan, satu malam penuh tangis yang tak pernah sempat ia balas. Darah menciprat ke dinding kusam, ke sprei, ke lantai yang perlahan berubah merah.

Tetap, Laela belum merasa aman.

Bagaimana jika Djatmiko bangkit lagi?

Bagaimana jika laki-laki itu kembali memukulnya–membalasnya puluhan kali?

Dengan napas memburu, ia menaiki tubuh suaminya yang sudah tak lagi melawan. Sebuah bantal ditekan sekuat tenaga ke wajah Djatmiko. Bahkan setelah tubuh itu berhenti bergerak, Laela masih mendudukinya, meloncat kecil di atasnya, kegirangan.

Baru setelah tubuhnya benar-benar lemas, ia turun dari ranjang.

Tangannya gemetar ketika mengusap wajah yang kini bercampur darah, air mata, dan keringat.

Lalu ia menoleh ke sudut ruangan.

Di sana, Satya.

Anaknya yang masih cilik berdiri dengan kedua tangan mengepal, menyaksikan semuanya tanpa menangis. Tatapannya justru berbinar, seolah sedang menonton Ultraman menumbangkan Godzilla.

Laela tersenyum.

"Nah... sudah Mama bunuh untukmu."

Suaranya lembut. Nyaris seperti seorang ibu yang baru selesai membacakan dongeng sebelum tidur.

"Nggak akan ada lagi yang menyiksa kita."

Ia mengangkat kedua tangannya.

"Ayo... tepuk tangan."

Di unit rusun yang dipenuhi bau darah dan kematian itu, tepuk tangan keduanya bergema, bersemangat.

Berhenti.

Laela membungkuk di depan anaknya, menyeka darah di sudut bibir mungil itu–bekas tinju bapaknya. Sesaat terharu, Laela kemudian memberikan mobil tamiya. “Nih, main. Mama akan bereskan semua kekacauan ini.”

Patuh, Satya meraih mobil-mobilan itu, kemudian duduk berbalik menghadap tembok, meluncurkan tamiya, membentur-benturkan ke tembok. Tetangga sebelah bisa saja mendengar bunyi berdebuk dari tembok yang tipis dan rapat, tapi, siapa peduli?

Laela mulai dengan mandi, membersihkan dirinya sendiri. Bergayung-gayung air, tiga kali menyabun, bau Djatmiko tetap melekat di tubuhnya. Tangannya meraih batu pualam, digosokkannya ke seluruh tubuh, tak terasa pedih–lebih sakit hatinya, mengingat semua cerca Djatmiko atas tubuhnya.

“Tetek kecil.”

“Bau ikan asin.”

Keluar dari kamar mandi, wangi sabun membuat Satya menoleh. Mamanya itu kini bersenandung riang, bahkan ketika menyisir rambut, menatap diri sendiri di depan cermin.

Sebelumnya, Laela bahkan tak berani memandang cermin. Djatmiko telah merenggut kepercayaan dirinya–habis sama sekali, seperti menyetel video porno setiap kali bercinta, membayangkan dirinya bercinta dengan si pemeran wanita, bukan dengan Laela.

Lihat selengkapnya