Ketika Sulung Perempuan Memikul Banyak Derita dan Berakhir Menjadi Pembunuh

Autami Anita
Chapter #2

Pengakuan

“Kamu membunuhnya?”

Dalam ruangan penyidik yang dingin dan lengang, pertanyaan itu terlontar dari mulut Detektif Gia.

Laela, dengan borgol melingkari kedua pergelangan tangannya, mendongak menatap kamera pengawas yang lampunya merah.

Detektif Gia, wanita berusia 34 tahun itu, melihat ke mana pandangan Laela mengarah, lalu menghela napas, dan diketoknya meja, agar Laela hanya fokus pada dirinya saja.

“Laela, kamu membunuh Djatmiko?” 

“Kalau saya tidak menusuknya, Satya bisa mati, Mbak.”

Kening Detektif Gia mengerut, berusaha memahami ucapan Laela.

“Apa yang Djatmiko lakukan kepada Satya saat itu?”

Laela tidak langsung menjawab. Matanya yang jelalatan kini menatap lawan bicaranya. “Satya–”

Detektif Gia membenarkan posisi duduk, menantikan ucapan selanjutnya.

“Satya ditonjok. Terus, dicekik.”

Jemari Detektif Gia menari di atas papan ketik sebuah laptop yang terbuka di depannya. 

“Kalau saya tidak menusuknya, Satya akan–” Laela meneguk ludah, merasa haus. “Satya–”

Penuh sabar, Detektif Gia mendengarkan pengakuan demi pengakuan. 

“B-boleh saya minta minum?”

Detektif Gia menoleh ke dinding kaca ruang interogasi, di mana cermin satu arah tertanam, dan di balik sana, para petugas kepolisian lainnya tengah menyimak penyidikan, juga membantu menyimpulkan.

Tak lama kemudian, seorang petugas masuk ke ruangan, untuk meletakkan segelas air es di meja.

Laela langsung menyambarnya dengan tangan terbogol rapat, meneguknya berkali-kali hingga tiada setetes pun tersisa. Selesai minum, dia mengarahkan gelas kosong itu ke petugas tadi, minta lagi.

Petugas itu menatap Detektif Gia, seolah minta persetujuannya. Wanita itu mengibaskan tangan, menyuruh petugas itu mengambilnya lagi.

“Haus?” tanya Detektif Gia setelah petugas itu pergi.

Laela mengangguk. “Saya dan Satya belum makan dari semalam. Minum juga tidak. Satya sekarang–”

“Dia di tempat yang aman,” jelas Detektif Gia, seolah paham maksud Laela. “Cemaskan dirimu sendiri.”

Petugas polisi tadi kembali, memberikan minuman untuk Laela lagi. Melihat Laela menenggak minuman sangat haus, Detektif Gia terkekeh sinis dan bertanya, “Apa kita harus pesan nasi Padang sama es teh manis?”

Laela meletakkan gelas kosong ke meja, lalu petugas tadi mengambilnya, sekalian pergi.

“Sekarang, katakan.” Detektif Gia menyatukan jari-jari, menopang dagu di atas meja. “Kamu membunuh Djatmiko?”

“Ya.” Laela menjawab tanpa ragu.

Lihat selengkapnya