Tahun-Tahun Sebelum Laela menikah dengan Djatmiko
Orang-orang lalu lalang, menyempatkan melirik, berbisik satu sama lain. Lihatlah jerangkong yang duduk di bawah pohon itu, kata seorang, pada seorang lagi.
“Dia menunggu siapa?”
“Cinta pertamanya.”
“Sudah lama?”
“Sampai jadi jerangkong seperti itu, tentu lama sekali.”
“Kasihan, sebentar lagi badai. Apa tulang-tulang itu tidak akan rontok?”
“Entahlah. Cinta pertamanya harus buru-buru datang. Kian hari, harapannya kian tipis. Harapan menggerogoti daging, kulit hingga jantungnya.”
“Pergi ke mana cinta pertamanya?”
“Katanya, menempuh pendidikan di luar negeri. Mereka terpaksa berpisah. Dulu, mereka pasangan populer di SMA ini.”
“Benarkah? Jerangkong sepertinya?”
“Jangan salah. Waktu dagingnya masih ada, dia cantik. Kekasihnya tergila-gila, mengikutinya ke mana-mana seperti anak ayam pada induknya.”
Dia memang sudah menjadi jerangkong. Seperti orang-orang bilang, harapan menggerogoti seluruh raga. Namun, bukan itu saja. Daging dan seluruh tubuhnya habis dimakan adik-adiknya.
Kala tubuhnya berdaging, Mama selalu menyuruhnya menyuapi adik-adik dengan dagingnya supaya anak-anak itu diam. Secuil, dua cuil, cukup mengenyangkan. Namun, setelah Bapak mati dan jerangkong itu masih harus menyuapi adik-adiknya, secuil-dua cuil tidak lagi cukup.
Pada saat seperti itu, Mama kawin lagi dan cuma membawa si bontot, meninggalkan dua adik lain dengannya. Menyaksikan ibu mereka pergi, menyisakan sesosok jerangkong, kedua anak itu menjerit hingga urat-urat leher menyembul keluar. Histeris tak bisa dikendalikan. Mereka menciap-ciap seperti anak ayam, benar-benar menyebalkan, tapi dia tidak pernah menganggapnya demikian.
Jerangkong itu mencuil daging di tubuhnya sendiri, lagi dan lagi. Hingga tulang belulang. Hingga tersisa daging di wajah. Akan tetapi, ciap miap itu masih kedengaran.
Jerangkong itu menatap mereka, lemas kuyu dan tak punya pilihan lain. Perlahan, dia meraba dada, menyelipkan tangan ke sela-sela tulang kemudian mencabut jantung. Di atas telapak tangannya kini, tergeletak seonggok daging merah dengan darah kental merembes jatuh dari jari-jari.
Aroma amis segera memadamkan ciap miap itu. Kepala anak-anak itu bergerak pelan, mengikuti aroma. Itu dia. Sebuah jantung. Jerangkong itu agak gemetar melihat wajah adik-adiknya. Seperti setan siap menerkam, air liur mengalir dari sudut bibir. Maka, disodorkannya jantung itu. Takut tangannya dikoyak taring, dia melemparnya. Seonggok jantung terlempar membentur tembok hingga darahnya muncrat ke mana-mana. Anak-anak itu mengerumuninya seperti hiena kepada bangkai. Berebut amat rakus.
Semua terjadi seperti itu. Dia telah memberikan hidup dan jantung pada adik-adiknya. Sekarang, harapannya cuma ingin bertemu kembali dengan kekasihnya. Dia ingin bersinar, merona dan berbunga-bunga lagi kendati hanya sesosok jerangkong. Namun, itu pun tiada pernah terjadi.
Ponselnya berdering. Telepon dari adiknya, tapi bukan adiknya yang menelepon, melainkan seorang perawat rumah sakit. Adiknya pingsan, katanya. Buru-buru, jerangkong itu menyambar jaket dan pergi. Badai mulai menghampiri dan badannya tidak boleh rontok dalam situasi begini.
*
“Bajingan mana yang melakukan ini padamu?”
Gemintang diam saja, lebih tepatnya takut, nyaris menjadi abu, menatap api membara di kedua cekung mata jerangkong itu. Dia bungkam, tangannya meremas selimut rumah sakit yang membungkus kaki.
Jerangkong itu, bertanya lagi. Bajingan mana yang melakukan itu padanya hingga hamil. Buru-buru, Gemintang menyebut nama seorang laki-laki, karena jerangkong itu semakin tidak sabar, terus bergerak gelisah hingga tulang-tulang berderit-derit.
Setelah nama itu lolos dari bibir adiknya, jerangkong itu diam, meredam ledakan dalam hatinya sendiri, sebab dirinya cuma punya hati, jantungnya sudah habis dimakan adik-adiknya.
“Aku menerima undangan pertunangannya tadi pagi.” Gemintang melirik sebuah botol kaca berisikan kertas undangan. Tanpa pikir panjang, jerangkong itu menyambarnya, membawanya pergi.
Sepeninggalnya, Gemintang tercenung sejenak dan otot-otot di sekujur tubuhnya mulai mengendur. Bokongnya bergerak turun, beringsut tidur. Setelah menarik selimut setinggi bahu, dia memejam dan tersenyum puas.
Sudah sejak lama Gemintang ingin memberi pelajaran kepada laki-laki itu dan kini dia tidak perlu repot-repot lagi mengotori tangan sendiri. Jerangkong itu akan melakukan itu untuknya, memecahkan botol di kepala laki-laki itu.