Ketika Sulung Perempuan Memikul Banyak Derita dan Berakhir Menjadi Pembunuh

Autami Anita
Chapter #4

Salahkah Aku Bersikap Egois Satu Kali ini Saja?

Di lobi yang serba putih, dan bau obat, Laela duduk diam, tapi dadanya naik-turun, menghela napas berkali-kali. Disesalinya, dirutukinya, kata-katanya sendiri, kepada Zakri.

Kenapa berbohong? Bilang tak menunggu, padahal menunggu. Bilang tak peduli, nyatanya begini. Ah! Laela meraup wajah frustrasi. Bersamaan dengan itu, sebuah notifikasi muncul di ponsel yang digeletakkannya di kursi sebelah yang kosong–lobi sepi dan lengang, sudah pukul sebelas malam.

Paket Anda Telah Diserahkan ke Jasa Kirim.

Mata Laela membelalak, dipencetnya layar berkali-kali, berharap bisa membatalkan pesanan, tapi, terlambat. Kemeja pria seharga satu juta lebih. Untuk siapa lagi? Tentu saja untuk Zakri. Namun, tahu situasinya akan menjadi begini, lebih baik tidak usah beli. Mending uangnya dipakai untuk biaya rumah sakit!

“Obat atas nama Nona Gemintang.” Nah, kan? Setelah membayar obat di kasir, Laela mengintip isi dompet, lalu menyipit miris mendapati uang seratus ribuan tinggal dua lembar. 

Lagi, ponselnya bergetar. Sebuah telepon dari Bintang, adiknya. Dijawab sekenanya, seketus mungkin. “Apa?”

“Teh, di mana sih? Laper nih gue.”

“Masak sendiri. Ada mi goreng kan di dapur.”

“Lo pernah lihat gue masak? Masak air aja gosong.”

Laela memejam gemas, bersumpah akan menjitaknya nanti di rumah.

“Ya udah, tunggu! Nasi goreng mau?”

“Telurnya didadar, ya.”

Tut! Sambil berjalan ke IGD, Laela mematikan telepon. Disibaknya tirai yang menutupi brangkar Gemintang. Adik perempuannya itu sudah berdiri, tengah memasukkan benda-benda ke dalam ranselnya. 

“Ayo, pulang.”

“Naik apa?”

“Motorlah.”

“Kata dokter–”

“Iya, iya. Kamu naik taksi, aku naik motor. Berani, kan, naik taksi sendiri? Nanti aku ikutin dari belakang.”

Selama perjalanan pulang, sambil wajahnya ditepuk-tepuk oleh angin malam, Laela menghitung dalam hati. Dua ratus ribu dikurang nasi goreng dan taksi. Sisa yang tak seberapa membuatnya garuk-garuk helm.

*

“Mana nasi goreng gue?” Bintang mengekori Laela ke sana-kemari, menanyakan titipannya. Remaja berusia kelas satu SMA itu bahkan tidak repot-repot menanyakan mengapa Laela menuntun Gemintang, atau mengapa mereka pulang tengah malam.

“Tutup abangnya. Lagi naik haji kali.” Laela menyeletuk asal, lalu mendudukkan Gemintang ke sofa ruang tengah.

“Teh, serius, gue nggak bisa tidur nih kalau lapar!” Bintang merengek, mulai kesal.

“Kamu lihat nggak sih, Gemintang lagi begini?” Pada akhirnya Laela berdiri, membentak adik manjanya itu. Tidak lupa, kan? Laela adalah jerangkong, dan adik-adiknya memakan daging dan jantungnya dengan rakus juga egois.

“Gemintang kenapa memang? Sakit dia? Lumpuh? Nggak bisa jalan?”

“BINTANG!”

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja Gemintang melesat dan tergopoh-gopoh ke kamar mandi, lalu muntah-muntah di sana. 

Laela mengurungkan niatnya dari mengomeli Bintang, kemudian berjalan ke kamar mandi, membantu adik pertamanya itu dengan memijat lehernya, agar Gemintang memuntahkan semuanya.

BRAKKK! Bintang masuk kamar, membanting pintu. Laela memejam gemas, menggertakkan giginya, menahan kesal.

Setelah semua itu, Laela mengantarkan Gemintang ke kamarnya, membuatkan air hangat untuknya, lantas masuk kamar, langsung membanting tubuhnya ke ranjang yang segera berderit–ranjang itu adalah ranjang tua milik Mama dan mendiang Papa.

Laela menengadah ke langit-langit, lalu memiringkan badannya, menatap kotak rokok di atas nakas. Berulang kali, dia berpikir untuk merokok, menenangkan diri dengan nikotin dan asap seperti teman-temannya dulu di SMA, tapi, berulang kali pun, dia mengurungkan niatnya itu.

Lihat selengkapnya