Ketika Sulung Perempuan Memikul Banyak Derita dan Berakhir Menjadi Pembunuh

Autami Anita
Chapter #5

Pria dari Dating Apps

Sampai rumah, Laela langsung masuk kamar, mengambil ransel besar, lalu memasukkan baju-baju dan barang-barang lain. Gemintang berdiri di ambang pintu, bertanya Laela mau ke mana. 

“Menenangkan diri!” sahut Laela, sambil menjejalkan baju-baju, kemudian menutup ritsletingnya. Tanpa bisa dicegah, Laela melewati Gemintang, berjalan tergesa ke arah pintu, tapi lantas dia berhenti. Mematung sebentar. Kendati langkahnya mantap, jiwanya bertekad, tetap saja, dia mencemaskan adik-adiknya. 

Laela kembali lagi, merogoh tas slempang, lalu melemparkan sejumlah uang ke atas meja makan. “Untuk makan,” katanya, ketus. “Diirit-irit. Aku nggak ada lagi.”

Sebelum pulang, dia tadi sempat mampir ke ATM untuk mengambil sedikit dari tabungannya. Terpaksa. Mau gimana lagi? Dirinya telah terbiasa menjadi tulang punggung, dan akan terus terjadi seperti itu.

Keluar rumah, dirinya lalu menyambar helm bogo yang disangkutkan di kaca spion, memakainya tanpa kaca pelindung, sehingga begitu jalan, angin akan menerpa-nerpa wajahnya. Begitulah kondisi keuangannya saat ini: mampu beli kemeja, tidak mampu beli helm baru yang lebih layak. Ah, kemeja itu lagi!

“Nikah? Dua bulan?” Olive, teman apoteker Laela, menggulung kabel tensimeter, lalu memasukkan benda itu ke etalase. Dirinya kaget bukan main, mendengar Laela harus menikah dalam waktu dua bulan–kalau tidak mau dilangkah.

Di sinilah tempat Laela menenangkan diri–di apotek miliknya sendiri. Meskipun dia tidak lulus dari kuliah farmasi, tapi, kerjasamanya dengan Olive yang telah memiliki izin, membuatnya bisa membuka apotek sendiri. 

Laela duduk di kursi pijat, mendengarkan Olive, tapi matanya memejam menikmati setiap pijatan di betis dan lengan pundaknya. Tidak seperti Laela yang harus menghemat, Olive terlahir dari keluarga kaya, dan merupakan pemilik kursi pijat itu. Bagi Olive, jualan obat cuma hobi. Bagi Laela, kursi pijat itu sebenarnya bisa disewakan per jam—pikirannya cuma bagaimana caranya menghasilkan uang dan uang. Namun, Olive tidak mengizinkan kursi itu disewakan. Takut kuman, katanya. Kalau Laela? Takut tidak punya uang.

“Terus gimana?” Olive duduk di kursi plastik, menyeruput kopi gula aren yang telah cukup lama diabaikannya karena banyaknya pelanggan sejak tadi. Ditepuknya lutut Laela. “Zakri gimana? Udah ketemu, kan?”

Mendengar nama Zakri, Laela membuka mata, dan langsung duduk menegak. Ditatapnya Olive yang menatapnya juga–menunggu dengan dag-dig-dug.

“Itu dia,” kata Laela, serius. “Entah gimana ceritanya, gue ketemu Zakri di gedung itu.”

“Serius?”

Laela mengangguk cepat.

“Memang lo nggak ketemu dia di sekolah?”

“Nggak. Keburu rumah sakit telepon gue.”

“Tapi, ketemu di gedung?”

Lagi, Laela mengangguk-angguk.

“FIX, LO JODOH SAMA DIA, LEL!”

Karena ucapan Olive, Laela tercenung sebentar. Namun, kemudian dia mengibaskan tangan, berusaha mengenyahkan pikiran yang tidak-tidak. “Cuma kebetulan. Jodoh apanya? Pada akhirnya, gue bilang sama dia kalau gue nggak nunggu dia di sekolah.”

“Gila, lo! Kenapa bohong?”

Lihat selengkapnya