“Mas, siomay dua, ya. Yang satu campur, tapi, nggak pakai kol. Satu lagi siomay sama tahu cokelat aja, bumbunya di pinggir, jangan pakai saos, ya. Dua-duanya jangan pakai jeruk, ya.”
Dari kejauhan, Zakri takjub dengan Laela yang mengingat menu siomay kesukaannya. Kapan terakhir kali makan siomay bersama? Delapan atau sembilan tahun yang lalu?
Laela bahkan kembali ke tempat duduknya di depan ruko pinggir jalan ini, dengan membawa dua botol air mineral. Satu botol air mineral dingin untuknya, satu lagi tidak dingin untuk Zakri.
Pria itu memegang botolnya sambil terkekeh melihat Laela meneguk minumannya hingga tersisa separuh. “Haus?” tanyanya, seraya meledek.
Satu yang Zakri lupa, Laela tidak sedang dalam mode bercanda. Wanita itu memang janji mentraktirnya setelah pertolongannya dari pria dating apps itu. Tahu, apa yang dilakukan Zakri untuk menyelamatkan Laela? Dia merangkulnya. Ya, merangkul pinggang Laela, berpura-pura jadi pacarnya, sehingga pria dating apps itu mati gaya, tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengumpat.
Siomay datang. Tanpa berkata apa pun, Laela memakan semuanya, meneguk air putih lagi, kemudian berdiri untuk membayar dan mengembalikan piring. Saat itulah, Zakri, dengan satu tangan memegang piring berisi siomay, menarik pergelangan tangannya, untuk bertanya, “Serius, kamu mau kayak gini terus?”
Perlahan, sambil menghindar dari saling bertatapan, Laela melepaskan lilitan tangan Zakri di pergelangan tangannya. Pria itu pun membiarkannya pergi mengembalikan piring, dan Laela pun cukup peka bahwa Zakri masih mau mengobrol, membahas semuanya, jadi, dia kembali duduk di sebelah Zakri, dan pria itu sama sekali tidak bisa menelan makanannya. Dia berdiri, memberikan piring yang masih penuh kepada tukang siomay itu.
Duduklah sepasang manusia itu, menatap lalu lalang kendaraan, dalam keheningan yang mereka buat sendiri, padahal dalam hati, riuh bukan main. Laela menaruh botol air putih di bawah kursi plastik yang didudukinya, sementara Zakri hanya menggenggam botol miliknya yang baru diminum seteguk.
“Apa lagi yang mau diomongin, Zak? Bukannya semua udah jelas?” Laela memasukkan tangannya ke saku jaket hoodie yang dikenakannya. Penampilannya sungguh santai karena baginya sudah pulang kerja, sedangkan Zakri masih rapi dengan kemeja yang bagian lengannya digulung hingga siku, dan dua kancing paling atas dibiarkan terbuka.
“Apanya yang sudah jelas? Aku masih belum tahu perasaan kamu.”
Laela meneguk ludah. Zakri tetaplah Zakri yang dikenalnya, yang tidak ragu mengutarakan apa yang dipikirkannya. Zakri yang selalu bersuara lembut, meski Laela ketus, dan keterlaluan.
“Aku pulang karena mau ketemu kamu. Kita janjian di sekolah, kan? Tapi–”
“Tapi, lagi-lagi, aku mempermalukan diriku sendiri di depan kamu. Ya, kan?”
Mata mereka bertemu karena Laela memotong ucapan Zakri. Kali ini, Laela tidak menghindar. Namun, tetap saja, dia yang lebih dulu berpaling. “Kamu sadar nggak sih, kita ini nggak bisa bareng!”
“Apa kaitannya ‘kita’ dengan kehamilan Gemintang?” Zakri meninggikan suaranya, hingga beberapa orang menengok ke arah mereka. Sadar diperhatikan, Zakri mengendalikan dirinya, menjadi mendesis, “Kamu cuma malu karena ketemu dalam keadaan kayak gitu kan? Tapi, aku nggak pernah mempermasalahkan itu. Oke, kita memang sempat ribut sebentar, tapi–”
“AKU HARUS MENIKAH!” Laela menyergah, hingga semua orang kini menatap mereka berdua. Namun, siapa peduli?