BAB 1
"Bangku Kosong di Hari Pertama"
Jakarta, Juli 2005
Mentari pagi menyinari halaman luas SMP Prestigia Jakarta, sekolah favorit yang berdiri megah di kawasan elite ibu kota. Bangunannya bergaya modern dengan taman yang tertata rapi, kolam kecil di tengah halaman, serta deretan mobil mewah yang silih berganti menurunkan para siswa.
Hari itu adalah hari pertama tahun ajaran baru.
Suasana dipenuhi wajah-wajah yang masih asing. Sebagian sibuk memperkenalkan diri, sebagian lagi tampak gugup memasuki lingkungan baru.
Di antara keramaian itu, seorang anak laki-laki berdiri tenang di depan gerbang sekolah.
Namanya Elfaraz Antonio.
Seragam putih-biru yang dikenakannya tampak rapi tanpa sedikit pun lipatan. Rambut hitamnya tersisir sederhana. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi.
Beberapa orang tua murid mengenali mobil hitam panjang yang mengantarnya.
"Eh lihat Itu anaknya Pak Antonio yang laki-laki ya?" Celoteh salah satu orang tua murid berbisik.
"Iya, Katanya keluarga mereka punya perusahaan besar dan ternama" sahut yang lainnya.
"Masih kecil, tapi wajahnya dingin sekali ya" bisik sebelahnya.
Elfaraz seolah tidak mendengar bisikan-bisikan itu. Ia melangkah menuju kelas VII-B dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Di tempat yang berbeda, sebuah sedan dinas berwarna hitam berhenti perlahan di depan gerbang sekolah.
Seorang Ayah berkemeja putih menoleh kepada anak laki-laki di sampingnya.
"Ayah gak bisa jemput nanti sore zra, karena ayah ada rapat di kementerian."
Anak itu mengangguk pelan.
"Gak apa-apa yah."
Pria itu tersenyum.
"Belajar yang rajin ya zra. Jangan minder dan bikinnayah bangga. Ingat, kamu ada di sini karena kemampuan kamu"
"Iya"
Anak itu turun sambil membawa tas ransel sederhana, Namanya Ezra Arsenio.
Berbeda dengan sebagian besar siswa lainny yang datang ke sekolah bersama sopir pribadinya, Ezra datang bersama ayahnya yang bekerja sebagai staf di Kementerian Agraria.
Ia menarik napas panjang sebelum memasuki gerbang sekolah.
Dalam hati ia berbisik,
"Semoga aku bisa punya teman yang baik di sini."
Bel berbunyi.
Seluruh siswa mulai memasuki kelas masing-masing.
Ezra agak terlambat karna sempat salah arah kelas dan mencari ruang VII-B yang berada di lantai dua.
Ketika pintu kelas dibuka, hampir semua bangku sudah terisi.