Ketika Takdir Mengetuk Pintu Persahabatan

Ezra Jo
Chapter #2

Bab 2 - Anak Pengusaha dan Anak Pegawai

BAB 2


"Anak Pengusaha dan Anak Pegawai"

Jakarta, Juli 2005



Hari-hari pertama di SMP Prestigia Jakarta mulai berjalan seperti biasanya. Para siswa yang semula masih canggung perlahan mulai menemukan kelompok pertemanan mereka masing-masing. Kantin yang luas selalu ramai saat jam istirahat, lapangan basket dipenuhi suara pantulan bola, sementara koridor sekolah dipenuhi obrolan ringan para siswa tentang hobi dan keluarga.


Di kelas VII-B, bangku dekat jendela masih ditempati dua anak yang belum banyak bicara.


Elfaraz Antonio dan Ezra Arsenio.

Meski duduk berdampingan sejak hari pertama, mereka lebih sering tenggelam dalam kesunyian yang terasa nyaman daripada memaksakan percakapan.


Suatu pagi, Bu Rina masuk ke kelas sambil membawa beberapa lembar formulir.


"Hari ini Ibu ingin mengenal kalian semua lebih dekat. Tuliskan data diri dan pekerjaan orang tua kalian ya anak-anak."


Seluruh siswa mulai menulis.


Beberapa menit kemudian, satu per satu diminta membacakan isi formulir mereka.


"Ayah saya direktur perusahaan tekstil."


"Ibu saya dokter spesialis."


"Ayah saya pemilik hotel."


Jawaban-jawaban seperti itu terdengar biasa di sekolah tersebut.


Hingga giliran Ezra.


Ia berdiri tanpa rasa minder.


"Nama saya Ezra Arsenio."


"Ayah saya bekerja sebagai staf di Kementerian Agraria."


"Ibu saya ibu rumah tangga."


Suasana kelas mendadak sunyi.


Beberapa siswa saling berpandangan.


Ada yang berbisik pelan, "Bukan anak pengusaha?"


"Aneh ya kok bisa masuk sekolah ini?"


Ezra mendengarnya.


Namun ia tetap berdiri tegak hingga selesai memperkenalkan diri, lalu kembali duduk tanpa mengubah ekspresinya.


Di sampingnya, Elfaraz melirik sekilas ke arah beberapa siswa yang berbisik. Tatapannya yang tajam membuat mereka langsung terdiam.


Saat jam istirahat, sebagian besar siswa berkumpul di kantin.


Ezra memilih duduk di taman belakang sekolah sambil membaca buku musik yang dibawanya dari rumah.


Gak lama kemudian, seseorang datang dan duduk di sampingnya.


Elfaraz.


"Kamu gak ke kantin?" tanya Ezra.


"Aku lebih suka di sini." Jawab ElfarazĀ 


Ezra mengangguk pelan.


Lihat selengkapnya