BAB 3
"Bahasa yang Tak Pernah Diucapkan"
Jakarta, Agustus 2005
Sudah hampir satu bulan sejak tahun ajaran baru dimulai.
Di kelas VII-B, semua siswa mulai memiliki kelompok pertemanan masing-masing. Ada yang selalu makan bersama di kantin, ada yang menghabiskan waktu di perpustakaan, dan ada pula yang tak pernah jauh dari lapangan basket.
Namun ada satu pemandangan yang selalu sama setiap harinya.
Dua anak laki-laki duduk berdampingan di dekat jendela.
Mereka gak banyak mengobrol.
Gak tertawa keras.
Dan enggak menjadi pusat perhatian juga.
Tetapi semua orang tahu, ke mana Ezra Arsenio pergi, biasanya Elfaraz Antonio ada gak jauh darinya.
Suatu pagi, hujan turun dari pagi buta., langit Jakarta tampak kelabu.
Ezra datang lebih awal dari biasanya, Ia duduk di bangkunya sambil membaca sebuah novel yang dipinjam dari perpustakaan sekolah.
Beberapa menit kemudian, Elfaraz masuk ke kelas dengan seragam yang sedikit basah karena berlari dari area parkir menuju kelas.
Tanpa berkata apa pun, ia duduk di samping Ezra, pandangannya tertuju ke buku yang sedang dibaca sahabatnya.
"Buku apa nih, kayaknya bagus?"
Ezra mengangguk.
"Iya El, ceritanya tentang dua sahabat."
Elfaraz hanya mengangguk pelan.
Gak ada pertanyaan lain.
Namun beberapa menit kemudian, Ezra menyodorkan buku itu.
"Mau baca setelah aku selesai?"
Elfaraz menoleh.
"Kamu yakin?"
"Iya."
Biasanya Ezra tidak mudah meminjamkan buku kesayangannya.
Namun entah mengapa, kepada Elfaraz ia merasa tidak perlu ragu.
Elfaraz menerima buku itu dengan hati-hati.
"Makasih ya."
Hari itu pelajaran Matematika berlangsung, lumayan cukup sulit.
Pak Haris memberikan latihan yang membuat sebagian besar siswa mengeluh.
Saat guru sedang memeriksa pekerjaan siswa lain, Ezra memperhatikan Elfaraz yang beberapa kali menghapus jawabannya.
Ia gak berkata apa-apa.