BAB 4
"Lapangan Basket dan Ruang Musik"
Jakarta, September 2005
Hari-hari di SMP Prestigia Jakarta mulai terasa semakin akrab bagi Elfaraz dan Ezra. Meski sifat mereka bertolak belakang, keduanya seperti menemukan keseimbangan dalam persahabatan yang perlahan tumbuh.
Bagi teman-teman sekelas, mereka adalah pasangan sahabat yang unik. Yang satu lebih banyak berlari, yang satu lebih banyak mendengarkan.
Bel pulang berbunyi lebih awal pada hari Jumat.
Di lapangan basket, suara pantulan bola menggema di bawah sinar matahari sore.
Elfaraz mengenakan jersey latihan berwarna biru tua. Gerakannya lincah dan penuh percaya diri. Setiap kali bola berada di tangannya, seolah ia tahu ke mana bola itu harus melaju.
Ezra duduk di bangku penonton sambil membawa sebotol air mineral, Ia memperhatikan setiap gerakan sahabatnya dengan penuh kagum.
"El!"
Suara pelatih terdengar lantang.
"Coba satu lawan satu!"
Elfaraz mengangguk.
Pertandingan latihan dimulai.
Lawan yang dihadapinya merupakan siswa kelas VIII yang lebih tinggi dan bertubuh besar, Namun Elfaraz tidak gentar.
Dengan dribel cepat, ia melewati lawannya, berputar, lalu melompat.
Swish!
Bola masuk bersih ke dalam ring, Sorak tepuk tangan memenuhi lapangan.
Ezra ikut berdiri dan bertepuk tangan paling keras.
Ketika latihan selesai, Elfaraz menghampiri sahabatnya sambil mengusap keringat dengan handuk kecil.
"Lama nunggu?"
Ezra menggeleng.
"Gak juga."
Elfaraz mengambil botol air yang disodorkan Ezra.
"Makasih ya."
Ezra tersenyum.
"Kamu hebat El."
Elfaraz hanya tertawa kecil.
"Masih banyak yang harus kupelajari zra"
Ezra mengangguk.
"Kamu selalu bilang begitu setiap beres latihan."
"Ya karena memang begitu."