Ketika Takdir Mengetuk Pintu Persahabatan

Ezra Jo
Chapter #5

Bab 5 - Satu Langkah untuk Melindungi Sahabat

BAB 5


"Satu Langkah untuk Melindungi Sahabat"


Jakarta, November 2005



Musim hujan mulai menyelimuti Jakarta. Udara pagi terasa lebih sejuk dari biasanya. Di halaman SMP Prestigia Jakarta, siswa-siswi berlalu-lalang sambil membawa payung dan jas hujan.


Hubungan Elfaraz dan Ezra kini semakin dikenal oleh seluruh sekolah.


Mereka masih gak banyak berbicara satu sama lain, Namun semua orang tahu bahwa keduanya hampir gak pernah terpisah.


Siang itu, jam istirahat berlangsung lebih ramai dari biasanya, kantin sekolah dipenuhi siswa dari berbagai kelas. Aroma mi ayam dan nasi goreng memenuhi ruangan.


Ezra sedang mengantre membeli makan siang, sementara Elfaraz diminta Pak Damar mengambil beberapa bola basket dari gudang olahraga.


Untuk pertama kalinya hari itu, mereka gak bersama.


Di belakang Ezra, berdiri tiga siswa kelas VIII yang dikenal suka menyombongkan kekayaan orang tua mereka.


Salah satunya, Kevin, memperhatikan kartu identitas siswa yang tergantung di dada Ezra.


"Eh, kamu Ezra, ya?" Tanya Kevin.


Ezra menoleh dan mengangguk sopan.


"Iya."


Kevin menyeringai.

"Eh dengar-dengar kamu masuk sini lewat beasiswa ya?"


Ezra gak menjawab.


"Haha ternyata benar."


Teman Kevin ikut tertawa kecil.


"Pantesan mobil yang jemput kamu biasa banget."


"Hebat juga sekolah ini, sekarang menerima anak pegawai."


Beberapa siswa mulai memperhatikan.


Ezra menggenggam nampan makannya sedikit lebih erat, Namun wajahnya tetap tenang.


Ia hanya berkata pelan,

"Aku masuk karena lulus seleksi."


Kevin mendekat.

"Tapi tetap aja... kamu beda."


Ezra menarik napas pelan, Ia memilih diam.


Baginya, membalas ejekan tidak akan menyelesaikan apa pun.


Di saat yang sama, Elfaraz baru saja kembali dari gudang olahraga, dari kejauhan ia melihat kerumunan kecil di depan kantin.


Langkahnya terhenti ketika mendengar tawa yang mengarah kepada Ezra, tanpa berpikir panjang, ia berjalan mendekat.


"Ada apa?" Suaranya datar.


Namun cukup membuat beberapa siswa menoleh.


Kevin menatap Elfaraz.

"Oh... anak pengusaha datang, santai aja bro kami cuma ngobrol."


Elfaraz melihat Ezra.

"Kamu baik-baik aja zra?" Tanya ElfarazĀ 


Ezra mengangguk pelan.

"Iya."


Namun Elfaraz mengenal sahabatnya, Ezra memang selalu berkata "baik-baik saja", bahkan ketika sebenarnya tidak.


Lihat selengkapnya