BAB 6
Rumah Kedua
Jakarta, Januari 2006
Liburan semester telah usai,
Pagi pertama masuk sekolah di tahun yang baru disambut langit Jakarta yang cerah. Siswa-siswi kembali memenuhi halaman SMP Prestigia Jakarta dengan wajah yang lebih segar setelah menikmati liburan panjang.
Di kelas VII-B, Elfaraz sudah duduk di bangkunya dekat jendela.
Beberapa menit kemudian, Ezra masuk sambil membawa sebuah kotak kecil yang dibungkus rapi. Lalu dia menyapa Elfaraz.
"Pagi El" katanya
Elfaraz mengangguk.
"Pagi jg zra!" Jawab Elfaraz
Ezra meletakkan kotak itu di atas meja.
"El Ini buat kamu." Katanya sambil tersenyum
Elfaraz memandang kotak itu cukup lama.
"Apa ini zra?" Tanyanya penasaran
"Oleh-oleh, Dari Tasikmalaya." Jawab Ezra
Elfaraz perlahan membukanya, di dalamnya terdapat sebuah miniatur angklung dari bambu yang dibuat dengan sangat rapi.
"Ayah bilang ini kerajinan khas daerah kami, Tasikmalaya" kata Ezra
Elfaraz menyentuh miniatur itu dengan hati-hati.
"Wah Bagus zra, Makasih ya zra" Kata Elfaraz sambil memandang ke arahnya.
"Aku senang kalau kamu suka El." Jawab Ezra
Meski hanya mengucapkan beberapa kata, Ezra tahu Elfaraz benar-benar menyukainya.
Beberapa hari kemudian, sekolah mengadakan latihan basket tambahan untuk persiapan pertandingan antarsekolah.
Latihan selesai menjelang sore.
Saat hendak pulang, langit mendadak gelap, hujan turun sangat deras hingga halaman sekolah dipenuhi genangan.
Sopir keluarga Antonio belum juga datang karena jalanan Jakarta macet total.
Begitu pula ayah Ezra yang terjebak rapat hingga malam.
Pak Damar menghampiri kedua anak itu.
"El daripada menunggu terlalu lama."
"Iya, Pak?" Jawab Elfaraz
"Minta sopirmu mengantar Ezra dulu." Lanjut pak Damar.
Elfaraz mengangguk tanpa ragu.
"Baik, Pak." Katanya
Sekitar tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil hitam memasuki halaman sekolah, seorang pria paruh baya turun dan membuka payung.
"Selamat sore, Mas El."
"Sore, Pak Rudi." Jawab Elfaraz
Pak Rudi menoleh kepada Ezra.
"Teman Mas El?" Tanyanya
"Iya Pak." Jawab Ezra
"Pak, boleh antar Ezra dulu?" Ucap Elfaraz
"Boleh dong." Jawab Pak Rudi
Ezra sempat ragu.
"Apa gak merepotkan pak?" Tanyanya.
Pak Rudi tersenyum ramah.
"Enggak kok mas aman, enggak sama sekali."
Namun sebelum mobil berjalan, ponsel Elfaraz berdering, Ia mengangkatnya.
"Halo, Ma?"
Beberapa saat ia mendengarkan.
"Iya ma, Baik." Telepon ditutup.
"Mama bilang... lebih baik kamu ikut ke rumah dulu zra." Ucap Elfaraz
Ezra terkejut.
"Hah?"