BAB 7
Janji di Bawah Hujan
Jakarta, Maret 2006
Semester kedua kelas VII berjalan dengan cepat. Ujian tengah semester telah selesai, dan suasana sekolah mulai kembali santai.
Pohon-pohon ketapang di halaman SMP Prestigia Jakarta tampak semakin rindang, menjadi tempat favorit para siswa untuk berteduh saat jam istirahat.
Persahabatan Elfaraz dan Ezra kini bukan lagi sesuatu yang asing.
Mereka masih tetap seperti dulu tidak banyak bicara, tetapi selalu saling mencari ketika salah satu tidak terlihat.
Hari itu, latihan basket Elfaraz selesai lebih sore dari biasanya.
Ezra telah menunggu di bangku dekat lapangan sambil membaca buku musik.
"Ayo pulang?" ajak Ezra sambil menutup bukunya.
Elfaraz mengangguk.
Namun baru beberapa langkah menuju gerbang sekolah, langit yang semula cerah tiba-tiba berubah gelap.
Angin bertiup kencang.
Tak lama kemudian...
Byur!
Hujan turun begitu deras.
Siswa-siswi yang belum dijemput berlarian mencari tempat berteduh.
Elfaraz dan Ezra akhirnya berhenti di sebuah halte kecil yang berada tepat di depan sekolah.
Mereka hanya berdua.
Jalanan Jakarta tampak dipenuhi kendaraan yang melambat karena hujan.
"Sepertinya bakal lama," ujar Ezra pelan.
"Iya." Sahut Elfaraz
Elfaraz memandang jalan yang mulai dipenuhi genangan air.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.
Keheningan di antara mereka bukan sesuatu yang canggung.
Justru terasa menenangkan.
Ezra memecah suasana.
"El."
"Hm?" Elfaraz menoleh ke arah Ezra
"Kalau sudah besar nanti..." "...kamu mau jadi apa?" Tanya Ezra
Elfaraz tidak langsung menjawab.
Ia memandang hujan yang jatuh membasahi aspal.
"Ayah ingin aku meneruskan perusahaan keluarga, tapi aku belum tahu."
"Lho?" Ezra memandang Elfaraz
"Aku suka basket."
"Tapi basket tidak selamanya bisa dimainkan." Lanjutnya.
Ezra mengangguk memahami.
Lalu Elfaraz balik bertanya.
"Kalau kamu?"
Ezra tersenyum tipis.
"Aku ingin tetap bermain piano."