Ketika Takdir Mengetuk Pintu Persahabatan

Ezra Jo
Chapter #8

Retak yang Tak Terduga

BAB 8


Retak yang Tak Terduga

Jakarta, Agustus 2006




Tak terasa, Elfaraz dan Ezra telah duduk di kelas VIII.

Bangku mereka masih sama.

Dekat jendela.

Tempat di mana persahabatan mereka tumbuh sejak hari pertama masuk SMP.

Kini mereka dikenal hampir seluruh guru sebagai dua sahabat yang selalu saling mendukung.

Namun, seperti langit yang tak selalu cerah, persahabatan pun kadang diuji oleh hal-hal yang tidak pernah diduga.

Pagi itu, suasana sekolah berbeda.

SMP Prestigia Jakarta mengadakan seleksi untuk mewakili sekolah dalam Festival Seni dan Olahraga Antar-SMP se-DKI Jakarta.

Elfaraz terpilih sebagai kapten tim basket.

Sementara Ezra diminta mengikuti lomba piano solo.

Latihan keduanya semakin padat.

Sepulang sekolah, Elfaraz berlatih hingga sore di lapangan basket.

Ezra menghabiskan waktunya di ruang musik.

Mereka masih pulang bersama, tetapi waktu berbincang menjadi jauh lebih sedikit.

Suatu sore, Ezra menunggu seperti biasa di bangku dekat lapangan basket.

Jarum jam menunjukkan pukul lima.

Latihan telah selesai.

Namun Elfaraz tidak juga keluar.

Pak Damar ternyata mengadakan evaluasi khusus bersama tim inti.

Ezra memutuskan menunggu.

Lima belas menit.

Tiga puluh menit.

Hingga hampir satu jam.

Saat Elfaraz akhirnya keluar dari ruang olahraga, Ezra sudah dijemput ayahnya dan pulang.

Melihat bangku yang kosong, Elfaraz sedikit kecewa.

"Mungkin dia bosan menunggu."

Keesokan harinya.

Giliran Elfaraz datang ke ruang musik.

Ia ingin mendengarkan Ezra berlatih seperti biasanya.

Namun ruang musik sudah kosong.

"Ezra sudah pulang," kata guru musik.

"Tadi dijemput kakaknya karena harus latihan di rumah."

Elfaraz mengangguk pelan.

"Oh... begitu."

Lihat selengkapnya