Ketika Takdir Mengetuk Pintu Persahabatan

Ezra Jo
Chapter #9

Janji yang Tidak Boleh di Lupakan

BAB 9


Janji yang Tidak Boleh Dilupakan

Jakarta, September 2006



Sudah hampir dua minggu Elfaraz dan Ezra menjalani hari-hari dengan lebih banyak diam.


Mereka masih duduk di bangku yang sama.


Masih mengerjakan tugas bersama jika diminta guru.


Namun percakapan yang dulu mengalir sederhana kini berubah menjadi kalimat-kalimat singkat yang terasa canggung.


Bukan karena persahabatan mereka telah berakhir.


Melainkan karena keduanya sama-sama menunggu siapa yang akan memulai.


Hari itu adalah hari pelaksanaan Festival Seni dan Olahraga Antar-SMP se-DKI Jakarta.


Seluruh siswa SMP Prestigia berkumpul di aula untuk memberikan semangat kepada para peserta.


Elfaraz mengenakan seragam tim basket sekolah.


Di sisi lain, Ezra tampil rapi dengan jas hitam sederhana yang akan dikenakannya saat bermain piano.


Mereka sempat berpapasan di koridor.


"Semangat."


Elfaraz mengucapkannya pelan.


Ezra mengangguk.


"Kamu juga ya El."


Hanya beberapa kalimat.


Lalu mereka berjalan ke arah yang berbeda.


Pertandingan basket dimulai lebih dahulu.


Tim SMP Prestigia berhasil melaju hingga babak final.


Sorak-sorai memenuhi gedung olahraga.

Di detik-detik terakhir pertandingan, skor imbang.


Pak Damar berteriak dari pinggir lapangan.


"Faraz!"


Elfaraz menerima umpan terakhir.


Ia menggiring bola melewati dua pemain lawan.


Lalu melompat.


Swish!.


Bola masuk tepat ketika bel pertandingan berbunyi.


Seluruh tim bersorak.


Mereka menjadi juara.


Namun di tengah keramaian itu, Elfaraz justru menoleh ke arah tribun.


Bangku yang biasanya ditempati Ezra kosong.


Ia tersenyum tipis, tetapi ada sedikit rasa hampa.


"Andai dia ada di sini..."


Pada waktu yang hampir bersamaan, di aula utama sekolah tempat lomba musik berlangsung, Ezra duduk di depan piano.

Ruangan sunyi.


Lampu sorot hanya tertuju kepadanya.


Ia menarik napas panjang.


Lalu jemarinya mulai menari di atas tuts.


Lagu ciptaannya sendiri mengalun lembut.


Di tengah permainan, bayangan tentang sore di halte saat hujan turun tiba-tiba memenuhi pikirannya.


Tentang janji yang mereka tulis bersama.


Lihat selengkapnya