BAB 10
Langkah Baru di Kelas IX
Jakarta, Juli 2007
Liburan kenaikan kelas telah usai.
Tanpa terasa, Elfaraz Antonio dan Ezra Arsenio kini resmi menjadi siswa kelas IX, tahun terakhir mereka di SMP Prestigia Jakarta.
Hari pertama sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh semangat. Para guru mulai mengingatkan bahwa tahun ini bukan tahun yang biasa.
"Anak-anak Tahun ini kalian akan menghadapi Ujian Nasional," kata Bu Rina saat memasuki kelas IX-B.
"Banyak yang harus dipersiapkan. Jangan hanya mengejar nilai, tetapi belajarlah menjadi pribadi yang lebih baik."
Seluruh siswa mengangguk.
Di bangku dekat jendela, Elfaraz dan Ezra saling bertukar pandang sambil tersenyum kecil.
Tahun terakhir mereka di SMP akhirnya dimulai.
Jam istirahat pertama.
Seperti kebiasaan mereka, Elfaraz dan Ezra berjalan menuju taman belakang sekolah.
Namun kali ini, suasana terasa berbeda.
Banyak siswa kelas VII memperhatikan mereka.
"Itu Kak Faraz."
"Kapten tim basket."
"Yang itu Kak Ezra."
"Katanya main pianonya keren banget."
Beberapa adik kelas bahkan menyapa dengan sopan.
"Selamat siang, Kak."
Ezra membalas dengan senyum hangat.
"Siang."
Elfaraz menganggukkan kepala singkat.
Meski masih pendiam, kini wajahnya tidak lagi sedingin saat pertama masuk sekolah dua tahun lalu.
Beberapa hari kemudian, sekolah mengadakan kegiatan Masa Bimbingan Adik Kelas.
Setiap siswa kelas IX diminta mendampingi seorang siswa baru agar lebih mudah beradaptasi.
Elfaraz mendapat seorang anak bernama Raka, yang sangat menyukai basket tetapi pemalu.
Sementara Ezra mendampingi Nino, siswa yang baru pindah dari Surabaya dan pandai bermain biola.
Melihat keduanya membimbing adik kelas, Bu Rina tersenyum bangga.
"Dulu mereka yang dibimbing."
"Sekarang mereka yang membimbing."
Suatu sore setelah latihan basket, Raka bertanya kepada Elfaraz,
"Kak..."
"Iya?" Jawab Elfaraz
"Kenapa Kak Ezra selalu nunggu Kakak selesai latihan?" Lanjut Raka
Elfaraz tersenyum kecil.
"Karena dia sahabatku."