BAB 11
Gerbang Kelulusan
Jakarta, Februari 2008
Waktu berjalan begitu cepat.
Tak terasa, hanya beberapa bulan lagi Elfaraz Antonio dan Ezra Arsenio akan mengakhiri masa-masa mereka di SMP Prestigia Jakarta.
Koridor sekolah kini dipenuhi poster motivasi menghadapi Ujian Nasional.
"Percaya pada usaha, bukan pada rasa takut."
"Kelulusan adalah awal dari perjalanan baru."
Setiap guru mengingatkan hal yang sama.
"Kalian adalah angkatan yang membanggakan. Tetap semangat sampai hari terakhir."
Sejak awal semester, Elfaraz dan Ezra memiliki rutinitas baru.
Setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat mereka belajar bersama di perpustakaan.
Hari Selasa dan Kamis, mereka bergantian belajar di rumah masing-masing.
Jika di rumah Elfaraz, mereka belajar di ruang baca yang luas dengan rak-rak penuh buku.
Sedangkan di rumah Ezra, mereka belajar di meja makan sederhana sambil ditemani teh hangat dan pisang goreng buatan ibunya.
Bagi mereka, tempat belajar tidak pernah menjadi masalah.
Yang terpenting adalah mereka belajar bersama.
Suatu sore di rumah Ezra.
Julio baru pulang kerja paruh waktu sambil membawa beberapa buku latihan.
"Nih, buat kalian."
Ezra menerima buku itu.
"Buku soal UN ya kak.?" Tanya Ezra
"Iya."
"Masih bagus. Kakak dulu pakai ini." Ucap ka Julio
Elfaraz ikut melihat isi buku tersebut.
"Wah... lengkap."
Julio tersenyum.
"Nilai itu penting."
"Tapi jangan sampai persahabatan kalian kalah hanya karena mengejar angka."
Elfaraz dan Ezra saling berpandangan.
Mereka mengangguk hampir bersamaan.
Di sekolah, Bu Rina membagikan formulir pilihan SMA.
"Bagaimana, apakah Kalian sudah menentukan akan melanjutkan ke mana?"
Suasana kelas langsung ramai.
"Aku ke SMA Nusantara."
"Aku ikut sekolah ayah di Singapura."
"Keluargaku pindah ke Surabaya."
Ezra menoleh kepada Elfaraz.
"Kamu sudah tahu mau melanjutkan sekolah kemana?"
Elfaraz menghela napas pelan.
"Ayah ingin aku masuk SMA Prestigia."
"Sekolah lanjutan dari sini."
Ezra tersenyum.
"Aku juga daftar ke sana."
"Serius?" Elfaraz menatap sambil tersenyumÂ
"Iya."
"Tapi hasilnya belum tahu." Ucap Ezra pelan
Elfaraz mengangguk.
"Dengan nilai kamu..."
"...aku yakin pasti diterima."
Ezra tersenyum kecil.
"Semoga ya El."
Dalam hati, keduanya menyimpan harapan yang sama.
Semoga mereka tetap berada di sekolah yang sama.