Ketika Takdir Mengetuk Pintu Persahabatan

Ezra Jo
Chapter #13

Mimpi yang Mulai Mengejar Langit

BAB 13 


Mimpi yang Mulai Mengejar Langit

Jakarta, Oktober 2009




Waktu terus berjalan.

Tanpa terasa, Elfaraz Antonio dan Ezra Arsenio kini duduk di kelas XI SMA Prestigia Jakarta.


Masa-masa SMA terasa berbeda dibandingkan saat SMP. Pelajaran semakin sulit, kegiatan semakin padat, dan setiap siswa mulai memikirkan masa depan mereka.


Namun satu kebiasaan tidak pernah berubah.


Setiap pagi, dua sahabat itu tetap berjalan berdampingan memasuki gerbang sekolah.


Suatu Senin pagi, Pak Adrian membawa sebuah pengumuman.


"Bulan depan sekolah kita akan mengadakan Prestigia Talent Week."


"Semua siswa dipersilakan menunjukkan bakat terbaiknya masing-masing."


"Basket, musik, seni, debat, karya ilmiah, semuanya boleh ya anak-anak."


Suasana kelas langsung ramai.


Beberapa siswa tampak antusias.


Pak Adrian tersenyum.


"Ini bukan sekadar lomba."


"Ini kesempatan kalian mengenali diri sendiri dan talentamya masing-masing."


Hari itu juga, pelatih basket menemui Elfaraz.


"Faraz."


"Iya, Coach." Jawab Elfaraz.


"Tahun ini kamu kami tunjuk menjadi kapten penuh tim basket SMA."


Elfaraz sedikit terkejut.


"Saya?"


"Kamu yang paling layak." Seru Pelatih


"Tapi tanggung jawabnya besar." Elfaraz mengernyitkan keningnya.


Pelatih menepuk bahunya.


"Justru karena itu."


"Kamu bukan hanya pemain hebat."


"Kamu juga mampu menjaga tim."


Elfaraz mengangguk mantap.


"Terima kasih, Coach."


Di sisi lain, Bu Laras, guru musik, menghampiri Ezra.


"Ezra."


"Iya, Bu?" Jawab Ezra


"Saya ingin kamu membuat sebuah komposisi sendiri."


"Bukan memainkan lagu orang lain." Ungkap Bu Laras


Ezra terdiam.


"Komposisi saya sendiri?"


"Iya, Kamu sudah siap." Tanya Bu Laras.


Ezra mengangguk, meski dalam hatinya masih dipenuhi keraguan.


Sore itu mereka pulang bersama.


"Kamu kelihatannya lagi banyak pikiran zra?" kata Elfaraz.


Ezra tersenyum tipis.


"Aku diminta membuat lagu sendiri."


"Lah bagus dong." Kata Elfaraz sambil tersenyum



"Tapi aku takut hasilnya biasa aja." Lanjut Ezra ragu.


Elfaraz berhenti melangkah.


"Ez."


"Iya?" Ezra menatap Elfaraz


"Ingat waktu pertama kali aku dengar kamu main piano?" Lanjut Elfaraz


Ezra mengangguk.


"Kamu bilang lagunya belum punya judul."


"Iya." Jawab Ezra sambil bengong


"Menurutku waktu itu sudah bagus."


"Sekarang pasti lebih bagus." Ungkap Elfaraz menyemangati.

Lihat selengkapnya