Ketika Takdir Mengetuk Pintu Persahabatan

Ezra Jo
Chapter #14

Persimpangan Impian

BAB 14


Persimpangan Impian

Jakarta, Januari 2011



Waktu berlalu begitu cepat, kini Elfaraz Antonio dan Ezra Arsenio telah duduk di kelas XII SMA Prestigia Jakarta. Tiga tahun masa SMA hampir berakhir. Di balik tawa dan kebersamaan, kini ada satu pertanyaan yang mulai menghantui setiap siswa.

"Setelah lulus... akan lanjut ke mana?"

Di papan pengumuman sekolah, berbagai brosur universitas dari dalam dan luar negeri mulai dipasang. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, insinyur, pengusaha, hingga seniman.

Begitu pula dengan Elfaraz dan Ezra.

Untuk pertama kalinya, mereka mulai memikirkan jalan hidup masing-masing.

Suatu malam, di rumah keluarga Antonio.

Elfaraz baru saja selesai makan malam ketika ayahnya memanggilnya ke ruang kerja.

"Faraz, ayo duduk nak."

"Iya, Yah." Jawab Elfaraz.

Di atas meja sudah tersusun beberapa brosur universitas.

Ayahnya membuka pembicaraan dengan tenang.

"Perusahaan keluarga semakin besar."

"Beberapa tahun lagi Ayah ingin mulai menyerahkan tanggung jawab kepadamu."

Elfaraz hanya mendengarkan.

"Ayah ingin kamu kuliah di Fakultas Manajemen atau Bisnis."

"Supaya suatu hari nanti kamu siap memimpin."

Elfaraz mengangguk pelan.

"Iya yah Aku mengerti, Yah."

Ayahnya tersenyum.

"Tapi Ayah enggak akan memaksa kamu."

"Pilihlah jalan yang benar-benar menurut kamu yakin oke."

Kalimat itu membuat Elfaraz merasa lega.

Di rumah Arsenio, suasana yang berbeda terjadi.

Ayah Ezra sedang membaca koran ketika Ezra duduk di ruang tamu.

"Zra gimana sudah mulai memikirkan mau kuliah dimana nanti?" Tanya Ayah

"Iya, Yah." Jawab Ezra.

"Mau ambil jurusan apa?" Lanjut Ayah

Ezra terdiam sejenak.

"Aku ingin mengambil Musik."

Ayahnya tersenyum hangat.

"Kalau itu yang membuat kamu yakin dan bahagia..."

"...Ayah mendukung."

Ezra terkejut.

"Serius yah?"

"Kamu sudah membuktikan selama ini bahwa musik bukan sekadar hobi."

"Ia adalah bagian dari hidupmu."

Dari dapur, Ibu ikut tersenyum.

"Kami hanya ingin kamu menjadi orang baik."

"Profesi apa pun tidak masalah."

Mata Ezra terasa hangat.

Ia beruntung memiliki keluarga yang selalu percaya kepadanya.

Keesokan harinya di sekolah.

Elfaraz dan Ezra duduk di taman belakang seperti biasa.

"El." Ezra membuka pembicaraan

"Hm?" Elfaraz menatap Ezra

Lihat selengkapnya